Saturday, 4 April 2015

Nikmat Islam Dan Jalan Berdakwah

Jangan remehkan rahmat yang kita miliki, yaitu Islam. Orangtua saya bukan Muslim. Istri saya tahu betapa saya mencintai orangtua saya. Dan orangtua saya mencintai saya. Setiap hari, ayah saya berkata bahwa dia mencintai saya. Tapi jika ayah saya meninggal dalam keadaan seperti ini kemana dia akan pergi? Anda dapat mendo’akan orangtua anda, tapi saya tidak dapat berdo’a untuk ayah saya jika dia meninggal (karena dia non-Muslim).


Inilah kenyataannya saudara/saudari. Jangan remehkan rahmat yang diberikan Allah s.w.t kepada anda berupa nikmat Islam. Anda mempunya persyaratan untuk memasuki jannah(surga). Ini sangat penting saudara/saudari, karena inilah tujuan akhir kita. Untuk apakah hidup kita? 20, 30, 40, 50, 60 tahun. Dan saya tidak ingin kita hanya berpikir “Alhamdulillah aku seorang Muslim.” Saya ingin kita berangkat dan berdakwah karena ada banyak orang yang membutuhkan Islam saudara/saudari.

Nanti pada tahun 2040, menurut lembaga-lembaga medis, penyakit paling besar yang akan membunuh manusia adalah depresi, saudara/saudari. 25% dari wanita di zaman sekarang mengalami depresi. Anda harus menyadari bahwa ada kekosongan ruhani di luar sana. Dan anda dapat melakukan ini. Jangan sampai terlambat, karena kakek saya meninggal setahun yang lalu, pada bulan September. Kakek saya adalah segalanya bagi saya. Dialah satu-satunya orang dalam keluarga saya yang ketika berkata sesuatu, dia akan menepatinya meskipun dia harus memotong kakinya untuk menepatinya. Saya cinta kakek saya tapi saya tidak pernah berdakwah padanya.

Sayang sekali... Dan ketika saya mendengar bahwa dia sakit, saya langsung pulang ke kampung halaman naik pesawat untuk berdakwah padanya. Mungkin ada kesempatan baginya untuk masuk Islam, karena dia adalah pria yang mencintai Tuhan. Tapi dia meninggal pada hari Jumat dalam keadaan belum masuk Islam. Saya bahkan tidak dapat menghadiri pemakamannya, karena dia non-Muslim.

Jadi jangan sampai terlambat saudara/saudari. JANGAN SAMPAI TERLAMBAT. Dan kuatkan diri anda. Anda tahu anda dapat melakukan ini, siapapun diri anda, tidak peduli anda menganggap derajat anda setinggi apa, karena Muslim adalah orang-orang yang bertauhid. Kita adalah orang-orang La Ilaha Ilallah. Dan apa artinya itu? Itu berarti La hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada kekuatan sejati kecuali dari kekuatan Allah s.w.t).

Jadi Israel tidak bisa jadi alasan, media-media yang mencemarkan nama Islam juga tidak, karena semua ini hanyalah alat-alat tak berarti yang Allah gunakan untuk mewujudkan kehendak-Nya. Hanya Allah-lah kekuatan sejati, dan jika demikian adanya, maka ini harusnya membebaskan kita dari rantai makhluk, karena kita dapat mencapai apapun sesuai kehendak Allah s.w.t. Dan karena kita tidak tahu apa kehendak-Nya, maka hal ini memberikan kita banyak kemungkinan
untuk menggapai apa yang kita mau. Dan jika kita sudah berusaha sebaik mungkin dan gagal,
kita masih bisa tersenyum.

As-Salim dengan elok berkata ketika menceritakan apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w. Anda tahu kenapa? Karena Rasulullah s.a.w berkata: “Keadaan orang beriman itu menakjubkan. Ketika suatu hal yang baik terjadi padanya, dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan ketika suatu hal yang buruk terjadi padanya, dia bersabar dan itu juga baik baginya.” Bagaimana mungkin kita tidak bersabar sedangkan Allah s.w.t berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan, yaitu orang-orang yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya.” (Qs. 29:57-59)

Tuesday, 31 March 2015

CAK NUN - Min Haitsu La Yahtasib

Sesungguhnya engkau tak akan pernah sanggup memberi petunjuk kepada siapa yang kau kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, melainkan Allah yang Maha Sanggup menghidayahi siapapun saja yang dikehendaki-Nya.Saya mencoba menarik garis dari snapshot keadaan yang sekilas itu kepada sejumlah titik. Pertama, kalau kaum muslimin berbicara tentang kebangkitan Islam, asosiasi utama yang muncul di benak mereka adalah semaraknya tempat-tempat ibadah, membengkaknya komunitas-komunitas religius, meningkatnya akses   orang Islam terhadap struktur sejarah, dan sebagainya.Dengan kata lain, kebangkitan Islam dibayangkan terutama bermula dari kantong-kantong kultur agama. Yang ingin saya catat di situ adalah kenyataan yang berbeda: justru dari tengah dunia yang penuh nafsu, kerakusan, dan kebinatangan lahir tetesan-tetesan uluhiyah. Dari sub-kultur metropolitan, muncul kelahiran baru kesadaran beragama. Dari lingkungan-lingkungan yang selama ini kita ketahui hanya berisi keduniaan, ternyata nongol kerinduan keakhiratan yang lebih mendalam dan lebih dahsyat dibanding yang bisa dirasakan di masjid-masjid.Intensitas kerinduan keakhiratan dari daerah “rawan akhlaq”, baik kultural maupun struktural, itu terjadi justru karena cahaya itu memiliki sifat lebih ekstrem terhadap kegelapan dibanding terhadap ruang yang tak begitu gelap.
 
Kalau Anda melakukan ma-lima dalam waktu lama, kemudian Anda tiba pada kondisi taubah nashuha, maka tangisnya akan lebih mendalam dibanding tangis orang-orang yang tak begitu punya dosa.Mengapa kesadaran keagamaan yang lahir dari wilayah-wilayah macam ini saya katakan di atas sangat bagus jika diucapkan misalnya sebagai khotbah Jum’at Karena, keinsafan keilahian itu mereka temukan dari pengalaman-pengalaman kongkret.Orang-orang semacam ini adalah para pekerja sejarah yang nyata. Mereka adalah pejalan-pejalan struktural, pelaku-pelaku mekanisme kenyataan, yang mengerti persis apa isi dunia, sehingga juga lebih memiliki pemikiran yang strategis dan mendasar jika harus menterjemahkan konversi keagamaannya itu ke dalam aktualisasi realistik.

Sejumlah pemikiran dan program ekstra-bisnis yang para tokoh sudah dan akan lakukan terutama di bidang perekonomian dan pendidikan saya bayangkan sebagai sesuatu yang selama ini seharusnya menjadi program Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.B
ukankah institusi-institusi keagamaan kita selama itu relatif steril dari sangat banyak permasalahan kongkret ummat dan rakyat Indonesia? Bukankah organisasi-organisasi Islam yang besar dan kecil selama ini tidak cukup serius merelevansikan dirinya kepada tema-tema realistik seperti perintisan kekuatan perekonomian struktural ummat, pengolahan aset-aset ummat Islam untuk “berperang” di tengah pergulatan sejarah yang kongkret? Sungguh, kekuatan agama, kekuatan Tuhan, Kekuatan kebenaran dan keadilan, tidak terutama terletak pada lembaga-lembaga keagamaan yang selama ini kita anggap paling menyangga amanat-amanat tersebut. Kebangkitan kekuatan itu bisa justru terletak di wilayah-wilayah yang kita anggap “musuh agama”. Bahkan, tokoh-tokoh Islam bisa
jadi bukanlah mereka-mereka yang selama ini kita anggap sebagai tokoh-tokoh Islam.

CAK NUN - Gusti Allah tidak "ndeso"

Suatu kali Emha Ainun Nadjib cak nun. ditodong pertanyaan beruntun :
"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan:
Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.


Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.
Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.
Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).


Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Ekstrinsik Vs Intrinsik
Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.
Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."
Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.
Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.
Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya.
Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh kedalam.

CAK NUN - "Islamic Valentine Day"

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari "agama" lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan "islamisasi", "dakwah Islam", "syiar Islam", bahkan perintisan pembentukan "Negara Islam Indonesia" – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.
Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir, ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.


Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam. Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan "Gosip Islami", "Lokalisasi Pelacuran Islami", "Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah" atau pertandingan volley ball wanita Muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai Hari Valentine Islami…

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal…

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: "…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….".Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?" Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun… "Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?"

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: "Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?" Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah… tapi kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram…"
cak nun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Poskan Komentar

CAK NUN - Puasa, Setan, dan Gempa

PUASA itu melatih "tidak" karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan "ya". Sekurang-kurangnya mengendalikan "ya". Mental manusia lebih berpihak pada "melampiaskan" dibanding "mengendalikan".

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan.

Bahkan idiom "kemerdekaan" kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan "pelampiasan". Maka Ramadhan menjadi sangat penting untuk melatih "tidak" itu.

Bukan hanya tak makan tak minum tak banyak omong dan lain sebagainya, tapi juga berbagai macam "tidak" yang lain coba dilatihkan selama bulan Ramadhan. Termasuk "tidak" ribut, riuh rendah, gebyar-gemebyar, melonjak-lonjak, berjoget-joget. Puasa mungkin juga merupakan perjalanan memasuki kesunyian, menghayatinya, merenunginya, kemudian menemukan nikmatnya.

Dunia dan Indonesia sudah selalu ribut, dan begitu memasuki Ramadhan: semakin ribut keadaan. Modal keuangan dan alat perniagaan yang membuat apa saja menjadi komoditas semakin jadi pengeras suara dari keributan itu.
  
Penderitaan diributkan bukan oleh orang-orang yang menderita, tetapi oleh saudagar-saudagar penderitaan yang menjualnya sana sini dengan keributan statement, opini, dan asumsi, sambil menempuh strategi jangan sampai ada solusi. Wakil Presiden ribut terus kapan saja dan tentang apa saja. Jakarta ribut ingin menyulap dirinya menjadi Singapura yang metropolitan.

Bagi yang memasuki Ramadhan dengan mencoba menyelinap memasuki bilik "swaraning asepi" atau dunia "kasyful hijab", mungkin mereka mulai belajar membuka telinga batin sehingga terdengar suara-suara setan dan Iblis. Kalau suara Allah, para rasul dan nabi, atau auliya' –anggaplah kita kurang cukup bersih untuk bersentuhan dengan frekuensi itu. Mendengar suara setan saja alhamdulillah rasanya.

Suara setan beberapa waktu yang lalu yang saya dengar adalah ketika ada pentas monolog teater yang berjudul "Mencari Tuhan". Setan itu dengan beberapa rekannya tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang bahkan sampai badannya terguling-guling.

Salah satu setan bilang: "Kasihaaan deh lu Tuhan….. ratusan abad Kau ciptakan mereka, memasuki abad ke 21 sejak lahirnya Isa Nabi-Mu, dan entah berapa ratus abad yang lalu kau angkat manusia sebagai khalifah-Mu, mandataris-Mu di bumi sejak Adam yang ilmu ekogenetika manusia sudah membuktikannya bahwa ia manusia pertama: tiba-tiba hari ini mereka memberi pernyataan bahwa mereka sedang mencari-Mu….. Lha selama ini Tuhan ke mana kok sampai dicari-cari oleh mandatarisnya sendiri? Lha para mandataris yang hebat-hebat itu selama ini ngeloyor ke mana saja kok baru sekarang mencari Tuhan? Lho setelah 100 abad menjadi mandataris kok baru mencari siapa dan di mana Sang Pemberi Mandatnya?….."

Komunitas setan belang bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang sampai basah seluruh badannya oleh lelehan air mata. 

 
Menjelang hari pertama Ramadhan ini saya mendengar rombongan setan itu sengaja lewat-lewat di sekitar saya dan ngomong aneh-aneh seperti itu. "Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Puasa cap apa itu? Wong namanya saja puasa kok ribut. Anggaran belanja makanan minuman keluarga-keluarga kaum pelaku puasa malah lebih meningkat dibanding hari-hari tak puasa. Puasa kok meningkat cengengesannya, ribut jualan kue puasa, jajan puasa, kado puasa, lawakan puasa, ustadz puasa, album puasa, mebel puasa, soto rawon puasa, kolak getuk puasa…."
Dan ketika gempa mengguncang Bengkulu, Jambi, Padang, punggung bawah Pulau Sumatera – kejadian yang dulu diramalkan sudah seharusnya terjadi sekitar setahun lalu – Setan itu langsung nyerocos lagi: "Gempa datang untuk mencoba melawan ributnya suara Ramadhan, komoditas Ramadhan, industri Ramadhan, eksistensi dan vokalisme taushiyah Ramadhan…. Tapi berani taruhan bahwa gempa yang diizinkan Tuhan untuk terjadi di malam pertama memasuki Ramadhan itu tak akan mampu mengalahkan riuh rendahnya budaya industri Ramadhan!"

Setan lain bereaksi: "Bukankah itu mencerminkan suksesnya misi-visi kita kaum setan atas kehidupan manusia?" Setan yang pertama menjawab: "Untuk melakukan keributan-keributan perusak kekhusyukan Ramadhan, bulan privatnya Allah itu, umat manusia tidak memerlukan pengaruh atau provokasi kita para setan. Mohon kita akui dengan kebesaran jiwa bahwa kecerdasan manusia untuk mengotori hidupnya sendiri sudah jauh melebihi target maksimal nenek moyang kita para setan dahulu kala untuk merusak hidup manusia."

Setan yang ketiga menimpali: "Manusia itu tolol. Untuk tidak mencuri dan mabuk mereka butuh kitab suci Allah, tak bisa mereka temukan sendiri dengan nurani dan akal sehatnya. Untuk tidak korupsi dan menindas rakyat mereka butuh konstitusi dan hukum formal. Itu pun belum tentu mereka patuhi. Jadi untuk menghancurkan peradaban manusia, sama sekali tidak diperlukan setan dan Iblis. Mereka sudah matang dan dewasa dan canggih menjalankan sistem dan budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka sendiri. Meski Tuhan mengizinkan ada tsunami terjadi dan sepadan dengan tsunami di zaman Nabi Nuh dan Firaun, meskipun gunung-gunung diledakkan, meskipun gempa disebar, meskipun tanah bumi diretak-retakkan: manusia sudah telanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan sistem kebersamaannya untuk belajar dari bencana-bencana itu. Setiap bencana hanya melahirkan tiga bersaudara: politisasi bencana, komodifikasi bencana, dan wisata bencana…… Mereka sesungguhnya tidak mengerti Ramadhan…."

Saya termangu-mangu dan menjadi ragu sendiri: itu semua kata-kata setan atau malaikat atau isyarat dari Tuhan sendiri? 

CAK NUN - Nyicil Simpati Pada Setan

TULISAN ini saya bikin dengan mencuri waktu di sela-sela forum,menyelinap beberapa momentum untuk bisa menulis. Kerja saya seperti setan: berupaya pandai menggali peluang untuk memasukkan partikel energi dan nilainya ke pori-pori kejiwaan manusia.

Untuk manusia di zaman ini, hal yang dilakukan setan semacam itu bukan pekerjaan sulit karena manusia sudah hampir tidak memiliki pertahanan apa pun terhadap penetrasi setan. Juga karena manusia sudah semakin tidak mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali setan sehingga tidak pernah secara sadar atau instingtif mengetahui apakah ia sedang dipengaruhi oleh setan, apakah sedang berjalan didorong dan dimotivasi oleh setan, apakah ia sedang menyelenggarakan sesuatu yang pengambil keputusan sebenarnya adalah setan di dalam dirinya? ***

Tentu saja setan tidak bisa kita pandang dengan terminologi materi atau jasadiyah.Ia lebih merupakan energi atau gelombang. Sedemikian rupa manusia harus mempelajari dirinya sendiri: dari wujud materiilnya, psiche-nya, roh atau rohaninya. Kita sedang meyakini bahwa kita adalah manusia, adalah makhluk sosial, adalah warga negara Indonesia, adalah bagian dari masyarakat dunia, adalah kaum profesional, adalah ulama, anggota parlemen,pejabat,aktivis LSM,golongan intelektual, atau apa pun.

Tetapi itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku, dan elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial. Kita,pada konteks tertentu, dan itu sangat serius dan merupakan mainstream: mungkin sekali adalah boneka-bonekanya setan. Kita hanya robot yang di-remote control oleh kehendak setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan setan. Anda mungkin menganggap saya main-main retorika.Tidak. Ini sungguh- sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari sekolahan dan universitas, sebab penelitianpenelitian di wilayah itu tidak akan sampai pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang Tuhan, malaikat, Iblis, jin, dsb –yang sesungguhnya merupakan wujud nyata seharihari kehidupan kita.

Kita sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian tiba.Mainan kita namanya negara, demokrasi,pemilu,clean governance, pengajian, taushiyah, mau’idhah hasanah, band dan lagu-lagu, tayangan dan sinetron…. Semua itu tidak benar-benar kita pahami bahwa bukanlah kita subjek utamanya. Tentu ini semua harus sangat panjang ditelusuri, dianalisis, dipaparkan, dan disosialisasi.Tulisan ini sekadar membukakan pintu agar manusia mulai mempelajari setan sebagai salah satu metode paling pragmatis dan efektif untuk mengenali dirinya.

cak nun. Sebab hanya dengan benarbenar mengenali dirinya manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat negara, sistem sosial atau apa pun. Anda semua sedang menjadi korban tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, segala yang indah-indah di layar televisi, di halaman koran, di kantorkantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di panggung, di gardu, dan di mana pun.

Tolong jangan membantah dulu sebelum mempelajari setan, dalam segala wilayah, konteks, dan skala. Pelajari setan untuk individumu, untuk keluargamu, untuk keselamatan anak-anakmu tahuntahun yang akan datang, untuk masyarakat dan bangsamu.Tuhan bilang, ”Mereka melakukan tipu daya, dan Aku juga…. Aku kasih waktu sejenak kepada mereka….” Jatah untuk menyembuhkan diri bagi bangsa kita sudah berlalu.

Ramadan dan Idul Fitri sudah kita lalui tanpa makna apa-apa. Metabolisme zaman sudah tiba di putaran di mana kita memerlukan jangka waktu yang akan jauh lebih lama lagi untuk bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita semua sebagai bangsa. Segala sesuatu sudah kita jalani, kita junjung, tanpa melahirkan paradigma baru apa pun di bidang apa pun. Indonesia sudah ”mati”. Tahun 2008–2015 akan semakin terpecah,semakin tertipu daya,semakin lapar dan panas, semakin stres dan depresi karena kita sendiri sudah terbiasa menipu daya diri kita sendiri. ***

Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: ”Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan.Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai setan.” Di dalam kitab suci disebutkan: ”Dan ketika dikatakan kepada malaikat: ‘Bersujudlah kepada Adam,’ maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai….” Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh setan:

”Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam.Hari ini saya nyatakan: tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.”

CAK NUN - Jejak Tinju Pak Kiai

ANDAIPUN di seluruh Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan, keserakahan, maksiat atau segala macam nilai kacau lainnya, tidak serta-merta bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.
Baik buruk, jahat tak jahat, bukan satu-satunya faktor penentu nasib manusia. Dimensi dasar nilai hidup manusia adalah baik dan buruk, benar dan salah, indah dan tidak indah, sebenarnya belum cukup. Masih ada dimensi mendasar lainnya, belum lagi variabel-variabel dan detailnya. Ada ratusan terminologi.
Ada orang mengucapkan sesuatu dan melakukannya. Ada orang mengucapkan, tapi tak melakukan. Ada yang melakukan, tapi tak mengucapkan. Ada yang tak mengucapkan dan tak melakukan, dengan berbagai variabelnya.
Ada orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Ada orang tahu banyak tentang sedikit hal. Ada orang tahu sedikit tentang banyak hal. Ada yang tahu banyak tentang banyak hal - dengan berbagai variabelnya.
Ada orang mengkritik dan memberi jalan keluar. Ada orang mengkritik, tapi tak bisa memberi jalan keluar. Ada orang memberi jalan keluar tanpa mengkritik. Ada orang tidak mengkritik dan tidak memberi jalan keluar, dengan berbagai variabelnya.
Ada orang berjuang, berteriak-teriak, dan melaksanakan perjuangannya. Ada orang berjuang, tidak berteriak tapi mewujudkan perjuangannya. Ada orang berjuang dan tidak sibuk mengumumkan di koran bahwa ia berjuang, karena teriakan mengganggu strategi perjuangannya. Ada orang berteriakteriak tapi tidak berjuang. Ada orang yang tidak berteriak-teriak dan tidak berjuang, dengan segala variabelnya.
Ada orang yang mengerti dan mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang mengerti tapi tidak mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang yang tidak mengerti tapi mengerti bahwa dia tidak mengerti. Ada orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa dia tidak mengerti, dengan segala variabelnya.
Ada orang berdagang dan memusatkan diri pada pelayanan terhadap pelanggannya. Ada orang berdagang sibuk pada apa mau dia terhadap pelanggan sehingga lupa apa maunya pelanggan. Ada pedagang yang tidak peduli-peduli amat pada kemauan pelanggan dan tidak konsentrasi pada apa mau dia sendiri dalam berdagang, dengan segala variabelnya.
Ada orang perang dengan berbekal semangat dan keyakinan untuk menang, dengan menghitung cuaca, medan, dan musuh. Ada orang perang sangat teliti menyelidiki kekuatan cuaca, medan, dan musuh sehingga tidak sempat menghitung kekuatan dan kelemahan sendiri. Ada orang perang sibuk membanggakan kehebatannya sehingga merasa tidak perlu memperhitungkan lawan. Ada orang perang yang atas musuh tak berhitung dan atas dirinya sendiri juga tak berhitung, dengan segala variabelnya.
Ada orang yang sangat khusyuk dengan prinsip dan idealismenya dan sangat sungguh-sungguh memikirkan strategi terapan prinsipnya. Ada orang yang total pegang prinsip sampai tak punya energi dan waktu untuk memikirkan bagaimana menerapkannya. Ada orang yang habis usianya untuk tata kelola dan tata terapan sampai tidak ada prinsip yang tersisa di dalam dirinya. Ada orang yang tak peduli pada prinsip dan tak sungguh-sungguh melaksanakan apa pun, dengan segala variabelnya.

Ada seorang kiai nonton tinju bersama santri-santrinya pada suatu Minggu pagi bulan Maret tahun 1974. George Foreman melawan Muhammad Ali di Kinshaha.
Pak kiai bersemangat dan bersorak-sorai terus-menerus sampai terdengar ke seluruh asrama santri di pesantrennya. Sebaliknya, para santri hampir tidak ada suaranya dan tampak bingung air muka mereka. Setiap kali Muhammad Ali ditonjok, Pak Kiai bersorak. Para santri tidak berani meng-counter meskipun hati mereka ikut sakit melebihi sakitnya Muhammad Ali ditonjokin Foreman. Ali 32 tahun menantang juara dunia Foreman 24 tahun.
Mulai ronde 3 Ali sudah lari ke pojok ring terus dan memang tak diberi peluang oleh Foreman untuk sedetik saja tak terpojok. Ali minta tolong sama tali ring untuk bergelayutan dengan punggungnya menghindari pukulan-pukulan Foreman. Para santri rasanya tidak ridho dunia akhirat melihat dan mendengar Pak Kiai bersorak-sorak terus setiap kali Ali diberondong pukulan. Sampai akhirnya tiba menit kedua ronde kedelapan, Ali balas memukul, akumulasi jab, straight, dan hook. Foreman munting, terputar badannya dan tergeletak TKO.
Badannya belum habis benar, tapi mental dan hatinya KO lebih dulu karena tak menyangka Ali yang tua mampu menjatuhkannya. Para santri tak bisa menahan diri lagi. Begitu Foreman ngglimpang, mereka berteriak-teriak sangat keras. Sebaliknya Pak Kiai langsung pingsan, karena dua perkara. Pertama karena Foreman tumbang, kedua karena pekik kegembiraan para santri.
Sejumlah santri panik dan menjunjung tubuh Pak Kiai, mencoba menyadarkannya. Salah seorang santri nyeletuk, "Kenapa sih Pak Kiai mbelain Foreman?" Santri lain menjawab, "Lho, tidak. Pak Kiai sangat fanatik dan cinta sama Ali. Cuma dia sangka yang Foreman itulah Ali."
Kisah ini diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang, DPR, pemerintah, LSM, ulama dan siapa saja: mohon dengan sangat jangan ikuti jejak Pak Kiai itu.

CAK NUN - KONSUMERISME : Ular-ular Sihir Yang Dilawan Musa

Konsumerisme ialah keadaan di mana mekanisme konsumsi sudah menjadi bagian yang substansial dari kehidupan manusia. 'Bagian substansial' maksudnya bagian kehidupan yang seolah-olah dianggap 'wajib' atau tidak lagi ditinggalkan. Jadi, konsumsi sudah menjadi 'isme', sudah menjadi atau berlaku sebagai semacam 'agama'.
Keberlangsungan konsumerisme ditentukan ketika nilai dan potensi kreativitas manusia atau masyarakat dikapitalisir, dijadikan alat pemenuhan kebutuhan yang dijualbelikan.
Konsumerisme sesungguhnya sekaligus merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Oleh karena itu konsumerisme sebenamya bisa memiliki sisi yang bermacam-macam: ada konsumerisme dalam bidang pendidikan (sebutlah umpamanya 'konsumerisme etos-etos akademik'), ada konsumerisme terkandung dalam alam kehidupan beragama (umpamanya ummat menuntut mubaligh tertentu yang bisa memenuhi selera budaya mereka berdasarkan situasi sejarah), serta ada berbagai sisi konsumerisme yang lain.
Kita bisa memahami konsumerisme dari bermacam cara pendekatan. Narnun tidak aneh sama sekali, bahwa Al-Qur'an sejak semula telah menyediakan semacam cara pandang atau metoda untuk memahaminya.
Misalnya, dalam konflik terbuka antara Musa melawan Fir'aun yang didampingi oleh para sihir bayarannya, diakhiri dengan "duel kekuatan" antara mereka. Lihatlah Surah Thaahaa ayat 65 hingga 69 saja. Para penyihir sewaan Fir'aun berkata, "Wahai Musa! engkaulah yang terlebih dahulu melemparkan, ataukah kami?"
Musa menjawab, "Silahkan kamu sekalian melemparkan!" Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat para penyihir itu - terbayang pada mata Musa menjadi ular-ular kecil yang amat banyak, merayap-rayap ke segala penjuru.
Sehingga Musa merasa takut di dalam hatinya. Kami (Allah) berkata: "Janganlah kamu takut, karena sesungguhnya kamulah yang lebih unggul". Lebih benar, mulia. "Dan lemparlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa saja yang mereka perbuat.
Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah merupakan tipu daya sihir belaka. Dan itu tidak akan menang, dari mana pun, mereka datang".
Allah Maha Mengerti segala isi waktu. Konteks cerita mengenai Nabi Musa as. Itu tidak terbatas pada situasisituasi kejahiliyahan jarnan Fir'aun: ia tidak mustahil berlaku bagi keadaan-keadaan lain di kurun waktu kapan pun, sebelum atau sesudah Fir'aun. Ia juga bisa berlaku pada diri kita hari ini: karena bukankah bahkan seringkali kita menjurnpai diri sedang harus belajar "menyebut nama-nama benda" seperti Adam as, yakni ketika kita harus membenahi kembali pengertian-pengertian kita tentang nilai, alam, benda, dan segala apapun dalam kehidupan kita?

Dan siapakah gerangan Fir'aun? Apakah ia seorang raja yang hidup di abad 20 ini? Apakah ia suatu konspirasi ekonomi dan bahkan konspirasi politik yang memakai perdagangan kebudayaannya untuk menyihir golongan-golongan manusia di muka bumi yang memang hendak mereka jebak dan mereka telan dalam kekuasaannya? Jadi, pertanyaannya apakah Fir'aun itu semacam Modal besar? Kekuatan atau klik, jaringan ekonomi? Atau metode iklan-iklannya?
Dan kemudian yang amat penting ialah siapa gerangan yang sekarang 'wajib' berperan sebagai Musa. Serta pertanyaan tentang apa yang tergenggam di tangan kanannya.
Bagaimana menjelaskan secara empirik, pada kasus-kasus modem dewasa ini bahwa "apa yang mereka perbuat itu tidak lain hanyalah tipu muslihat daya sihir belaka". Mengapa Allah meyakinkan kepada kita, atau kepada Musa-musa, bahwa yang tergenggam di tangan kanan kita ini adalah sesuatu yang "lebih unggul", lebih tinggi, lebih mulia, lebih luhur. Dengan perspektif kefilsafatan macam apa kita menguraikannya, atau dengan tata aqidah keagamaan yang mana hal tersebut bisa kita pahami.
Kemudian akhimya yang paling menjadi adalah konfirmasi dari Allah bahwa "Musa pasti menang", bahwa "sihir-sihir mereka itu tidak akan menang, dari manapun datangnya". 'Dari mana pun' itu bisa jugakah berarti pusat-pusat penjualan film biru, producer-produser kaset yang melemahkan mental masyarakat, kantor-kantor berita yang memanipulir kenyataan, pusat-pusat modal dan sebagainya?
Haqul yaqin, daya giro' ah (membaca realitas) Anda;daya ro'iyah (kepemimpinan) Anda, membimbing Anda semua untuk mengetahui secara jelas, luas dan mendalam jawaba-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Ada pun yang sernpat tertuliskan di sini, hanyaiah salah satu kemungkinan syuuraa bainahum di tengah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri oleh sekalian Kaum Muslimin, Insya Allah demikian.
Apa gerangan sihir itu?
Misalnya, kita mulai memahaminya dengan kembali melihat-lihat dan meneliti barang-barang yang kita miliki, barang kita pakai atau yang tersimpan di dalam rumah kita. Dalam penelitian itu kita ukur, umpamanya, mana benda yang memang wajib kita beli dan wajib kita memiliki. Mana yang sunnah. Mana yang "sekadar" halal saja. Mana yang makruh, bahkan akhirnya mana yang haram.
Landasan kriterianva bisa bermacam-macam. Ambil saa misalnya "Kuluuwasyrobuu, wa laa tusrifuu" ("Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan"). Sebiji kelebihan, akan memiliki sifat mubadzir, dan "Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaaanasysyayaathiin ..." Karena kemubadziran itu sahabat setan, dan kata Allah, setan itu kufur terhadap Tuhannya.
Kualifikasi penilaian itu bisa kita perkuat dengan pemahaman terhadap konteks yang lebih makro dan memperhitungkan sistem hubungan sosial yang luas. Umpamanya, kalau kita tahu bahwa mayoritas saudara;audara kita masih berada di garis kemiskinan, maka seberapa layak atau seberapa halal kita membeli sesuatu yang kira-kira bersifat ironik dan tidak etis dihubungkan dengan kemiskinan saudara-saudara kita itu.

CAK NUN - Buron dan Kambing Terjepit

"CAK,aku bukan buron.Semua kewajiban saya kepada keuangan negara sudah saya bayar. Bersama ini saya kirimkan berkas-berkas data yang membuktikan hal itu.
Saya numpang hidup sementara di luar negeri memang karena saya lari, tetapi bukan lari sebagai buron, meskipun pengetahuan publik terhadap saya adalah buron." "Saya lari dari para pemeras, dari mereka yang berlagak menegakkan hukum, tetapi sesungguhnya mengail di air keruh.
Memeras kami sekeluarga terusmenerus, dari hari ke hari, siang dan malam. Aku lemah, sekarang istri saya yang menghadapi pemerasan-pemerasan itu tiap hari." "Kalau Pak Presiden menjamin bahwa saya, keluarga, dan perusahaan-perusahaan saya aman dan terlindung dari tindak pemerasan para pagar pemakan tanaman, sekarang juga saya balik ke kampung halaman.Karena meskipun potongan dan wajah saya tidak memenuhi syarat citra nasionalisme,tetapi saya cinta Indonesia.."
"Cak,Pasar Turi terbakar sebanyak 4 kali: 1. Tahun 1969, 2. Tahun 1978, 3. Tanggal 26 Juli 2007,4.Tanggal 9 September 2007.Yang ke-3 dan ke-4, oleh Kapolda Jatim, dinyatakan dibakar. Namun, kami para pedagang tidak atau belum mendengar ada proses hukum yang menuju ke peradilan atas pihak yang membakar.
Cak,bagaimana logika konstitusionalnya kalau kepala polisi bilang itu dibakar, tapi kemudian tak ada proses hukum.Apakah polisi bisa disebut telah menyebarkan kebohongan kepada publik? Ataukah pihak pembakar adalah kakap raksasa ekonomi dan politik sehingga lembaga keamanan negara tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya? Bagaimana kami orang kecil memasukkan hal seperti itu ke dalam nalar kepala kami? Apa lama-lama tidak pecah kepala ini?"
"Pada peristiwa dibakar terakhir, kerugian yang bisa dicatat : 1. Dari total 2.350 stan yang terbakar, kerugian barang dagangan diperkirakan sekitar Rp1,7 triliun. 2. Dari total stan yang tidak terbakar, di lokasi tahap II tidak dapat berjualan kembali hingga saat ini. 3. Dalam kondisi normal, omzet perputaran transaksi perdagangan di Pasar Turi mencapai sekitar Rp30 miliar per hari. Sementara dalam kondisi pemulihan yang sangat lamban seperti saat ini dan telah berlangsung selama tiga bulan, dapat dibayangkan berapa rupiah yang hilang." *****
"Cak,kami para pedagang tidak menuntut yang aneh-aneh. Cak Nun mengatakan di Forum Bangbang Wetan Surabaya bahwa sahibul bait atau tuan rumahnya sawah adalah petani, tuan rumahnya laut adalah nelayan, tuan rumahnya pasar adalah para pedagang. Kami hanya berpendapat bahwa sebagai penghuni dan tuan rumah utama di Pasar Turi, kami berhak disertakan sebagai salah satu subjek dalam proses pengambilan keputusan atas pembangunan pasar kembali oleh Pemkot Surabaya."
"Tetapi sampai hari ini, Wali Kota Surabaya Bambang DH tidak mau sekadar bertemu atau bertatap muka pun dengan kami para pedagang. Jangankan melibatkan kami dalam perundingan. Saya mendengar Cak Nun mencoba menempuh berbagai hal ke Depdagri sampai Mendagri, agar hak-hak pedagang itu memperoleh perhatian, tetapi tidak ada tanggapan apa pun.
Bahkan, pejabat Depdagri minta kami para pedagang membuat surat lamaran agar beliaubeliau hadir ke Pasar Turi.Cak Nun mengatakan kalau ada kambing terjepit di antara dua batu besar, mestinya pamong desa punya mekanisme untuk tahu ada kambing terjepit, kemudian bersegera melakukan sesuatu untuk menolong kambing itu. Tetapi di Indonesia kambing terjepit harus menulis surat lamaran agar pamong desa datang kepadanya."

 
"Cak, saya mendengar katanya Wali Kota Surabaya pernah dipanggil Presiden di Juanda, dipertemukan dengan wakil pedagang Pasar Turi, tapi sang Walikota tidak hadir. Apa itu artinya Cak? Presiden tidak punya kuasa atas Walikota? Ataukan ada aturan Otonomi Daerah yang memberi peluang kepada pejabat daerah untuk menangani sesuatu secara mutlak dan tak bisa dicampuri,bahkan oleh Presiden?"
"Cak, perwakilan pedagang sudah dua kali berusaha untuk bertemu Wali Kota Bambang DH tetapi tidak pernah diterima. Ada yang menganalisis bahwa SBY tidak mampu melakukan apa-apa atas Pasar Turi karena kunci-kunci di strata bawahnya di Depdagri sampai Pemkot Surabaya semua dari parpol saingan parpol Presiden. Sehingga semacam ada aroma konspirasi politik sangat menyengat sekali untuk menjatuhkan wibawa dan kekuasaan pemerintahan SBY.Apa itu masuk akal atau tak masuk akal,Cak?" *****
Yang paling bahaya dari SMSSMS yang saya terima semacam itu adalah karena membuat saya bergairah makan. Kenapa bahaya? Kata anak saya, ada seribu alasan kenapa orang minum air putih dan di antara 1.000 alasan itu di bawah seratus yang relevan terhadap kesehatan. Kalau kita berkunjung ke kantor bupati dan disuguhi air putih, maka kita minum air putih.
Air putih itu sehat, namun pada momentum itu kita teguk air putih tidak dalam skala pertimbangan dan desain kesehatan. Kalau gara-gara SMS-SMS banjir tiap saat, saya lantas merasa lapar lagi dan lapar lagi, maka saya ketemu makanan karena kompensasi psikologis, bukan tirakat kesehatan, dan itu bahaya bagi badan saya jangka panjang.
Kalau SMSSMS harian sekadar minta nama bayi lahir tiga sampai empat kali seminggu, suami punya masalah serius dengan istri atau sebaliknya, keluhan tentang lapangan kerja, minta modal, problemproblem rumah tangga, stres, gelisah, bingung menentukan pilihan, atau apa pun masalah manusia sehari-hari, saya masih belum terangsang untuk makan.
Tetapi kalau masalah yang di- SMS-kan begitu gede-gede: masalah Lumpur Sidoardjo yang sekamnya makin membara dan tak sampai setengah tahun lagi akan bisa ada yang terbakar kalau pemerintah, Lapindo, dan korban lumpur tidak menemukan pemandu yang tepat untuk mengatasi benturan mereka..
Kalau yang di-SMS-kan adalah potensi bentrok ribuan tani sawit di Bangka, tanah ratusan hektare penduduk yang dipakai negara dan sampai 23 tahun belum dibayar, dan kalau semua itu coba saya tolong dengan menjumpai betapa pejabat dan birokrasi negara kita hampir sama sekali tidak memiliki logika tanggung jawab, dialektika moral, kepatuhan konstitusi,maka sungguh-sungguh saya khawatir akan makan berlebihan dan besok paginya, tatkala bangun, akan muncul pikiran tertentu di kepala saya.
Pikiran-pikiran yang selama bertahun-tahun saya pendam dalam kolam kearifan,saya simpan di laci kesabaran, saya sembunyikan di balik kerudung cinta, namun akhirnya tak mampu lagi saya meneruskannya.

CAK NUN - Mencekik Orang Sesat

DALAM wacana sejarah umat manusia, yang saya tahu hanya ada satu orang yang melakukan tindakan kriminal, bahkan pembunuhan, yang tanpa kausalitas sosial dan tidak dalam situasi peperangan-namun dilegitimasi sebagai kebenaran,bahkan oleh Tuhan.Ialah Nabi Khidhir, salam Allah untuknya.Pernah bersama Kiai Kanjeng saya ngrasain duduk di tempat Nabi Musa duduk uzlah bertapa, puncak Gunung Tursina atau Jabal Musa,8 jam perjalanan dari Gereja Catherine, naik dua kali separuh lingkaran gunung, baru tancap ke puncak pengembaraan murid Khidhir itu.Tak ada alinea untuk mengisahkan dahsyatnya gunung itu serta peristiwa amat monumental yang pernah dikandungnya antara Musa dengan Allah sendiri.Tetapi intinya, di puncak gunung itu, sesudah Musa dipingsankan oleh Tuhan gara-gara tak sanggup memandang wajah- Nya, ia diperintah turun gunung kemudian jalan kaki sejauh sekitar 1.300 km agar berjumpa dengan Kanjeng Khidhir, calon profesornya.Panjang cerita tentang sok pintarnya Musa ini. Maka ia pun harus di-plonco oleh Pendekar Segala Pendekar. 
Dan begitu Musa sowan kepada beliau yang wajahnya ditabiri kerudung itu, Musa dipersyarati "Silakan ikut aku, tapi jangan bertanya apa-apa!" Semua orang Islam tahu kejadian- kejadian antara mereka berdua.Khidhir membocorkan kapal yang mereka naiki, kemudian mencekik anak kecil, terakhir menegakkan pagar rumah seseorang.Ketiga-tiganya Musa tidak lulus. Musa bertanya terus: kenapa kapal dibocorkan, kok anak itu beliau bunuh, wong nggak disuruh dan nggak dibayar kok mau-maunya memperbaiki pagar itu. Tentulah bukan karena Musa murid yang jelek. Beliau bertanya karena begitulah naluri beliau sebagai pejuang kebenaran, sebagai aktivis heroik, sebagai penegak HAM, dan pasti juga karena memang demikianlah kewajiban seorang Rasul.Seandainya tiga tindak kriminal Khidhir itu terjadi di wilayah NKRI,pasti beliau sudah ditangkap oleh petugas kepolisian. 
Minimal menjadi buron, terutama karena membunuh anak kecil. Menariknya, karena atas kasus Khidhir, "Komisi Orang Hilang" beserta seluruh LSM, insya Allah kompak dengan pihak pemerintah.Saya tidak memperoleh data apakah anak kecil itu bernama Munir atau bukan. Kalau benar Munir, pasti complicated karena Khidhir jelas bukan bagian dari kekuasaan, wilayah polisi modal, atau jaringan intelijen Kerajaan Fir'aun. Tapi pasti pembunuhan Khidhir atas anak kecil itu sangat ramai menghiasi media massa. Pasal utamanya karena pihak yang terbunuh itu bukan bagian dari golongan Islam.Kalau ada seribu orang Islam dibunuh,itu bukan berita, dibanding satu orang bukan Islam dibunuh. Lebih berita lagi kalau orang Islam yang membunuh. Seperti ada perjanjian dan logika tak tertulis bahwa kalau pihak Islam membunuh, itu pelanggaran HAM.Sebaliknya kalau pihak Islam dibunuh, bukan pelanggaran HAM.Masalahnya, di zaman Khidhir ini kata Islam belum populer,belum menjadi ikon negatif seperti sekarang, serta belum menjadi kambing hitam dari berbagai kesalahan berat pelanggaran HAM, pembangunan senjata pemusnah massal, lambang ketertinggalan, kebodohan, kemiskinan,dan kekumuhan.Secara yuridis, mudah menjaring Baginda Khidhir karena bukan bagian dari struktur kekuasaan Fir'aun.
 
Secara politik juga gampang mebulan-bulani Khidhir karena ia bukan bagian dari kemuliaan Amerika Serikat yang berjuang keras menyelamatkan umat manusia di seluruh permukaan bumi.Secara militer dan intelijen juga tidak ada kesulitan memperdayai Khidhir karena ia single fighter, tidak punya umat 30 juta, tidak didukung oleh Pasukan Berani Mati,juga karena wilayah subversinya sangat jelas dan mudah ditengarai, yakni sekitar pantaipantai dan seputar Laut Tengah, terutama Majma'al Bahrain: pertemuan dua arus laut.Sesungguhnya banyak sekali kandungan filosofi, sumber hikmah dan cakrawala wacana yang bisa diungkap dari adegan-adegan singkat Khidhir ini.Tetapi dalam tulisan ini hanya saya fokuskan pada posisi politis, sosial, dan kosmologis Khidhir-yang sedemikian rupa sehingga beliau tidak bisa disentuh oleh militer, kepolisian, hukum, pengadilan HAM,kekuasaan negara-negara atau kerajaan apa pun.
Bahkan tidak bisa dijaring atau dipersalahkan oleh ilmu dan wacana peradaban apa pun dalam kehidupan umat manusia. Khidhir menjelaskan kepada Musa bahwa dengan rusaknya kapal itu, penumpangnya terlindung dari rencana perampokan para bajak laut yang sebenarnya sebentar lagi akan terjadi.Anak kecil itu ia bunuh karena kelak ketika ia besar akan menjadi kafir kriminal, sehingga bapak dan ibunya akan kalah dan ikut menjadi kafir kriminal.Dengan dibunuh,anak itu akan masuk surga, dan bapak-ibunya juga batal menjadi kafir kriminal. Pagar ia tegakkan untuk menghindarkan kecurigaan para kapitalis yang beriktikad merebutnya karena di bawah pagar itu terdapat simpanan harta luar biasa besar melimpah dari masa silam.
Pengetahuan futurologi Khidhir, tindakan radikalnya, segala jenis kriminalitasnya, serta kesaktian pribadinya yang tak terlawan bahkan oleh Nabi Besar Musa AS adalah bukan wacana sosial horizontal, melainkan sirrullah wa biidznillah, berada dalam lingkup rahasia dan perkenan Allah. Negara, hukum, moral, peradaban dan segala sistem sosial manusia tidak memiliki daya sentuh atasnya.Akses manusia biasa seperti kita, termasuk seluruh pelaku sejarah peradaban umat manusia, hanya satu: believe it or not, take it or leave it. Maka nabi dengan nubuwwah, rasul dengan risalah, bahkan mungkin waliyullah dengan walayah: tidak punya tempat untuk hidup di alam sistem peradaban modern,tidak punya alamat di skala berpikir modernisme, tidak terdapat di sebelah manapun dari peta ilmu dan wacana modernitas.Dunia modern dan sistem nilai negara-negara modern sangat sempit, tak akan sanggup memuat keleluasaan cakrawala hakikat hidup yang sesungguhnya. Bagi mata pandang negara dan manusia modern, Khidhir itu sesat. 
Pelaku demokrasi dan pluralisme pun merasa tidak aman olehnya.Ya, kalau Khidhir cuma kasih taushiah dan melakukan pembaiatan.Kalau lantas ia mulai merusak-rusak kapal, pesawat, gedung-gedung, dan melakukan pencekikan dan pembunuhan: Amerika Serikat kampiun demokrasi pun akan mengerahkan FBI dan CIA-nya. Kalau Khidhir melakukan tiga kriminalitas itu di wilayah kelautan dan darat NKRI, pasti ditangkap. Dan kalau benar ia Khidhir, maka sepuluh ribu tentara, polisi, dan intelijen tak akan sanggup menangkapnya.Apalagi sampai menyentuh kulitnya, mencekik lehernya dan memasukkannya ke sel tahanan atau penjara.

CAK NUN - Aturan Perampok untuk Pengemis

Sejak zaman muda masih kos dulu, saya memang tidak suka ngasih apa - apa kepada pengemis. Alasan saya dua: Pertama, saya tidak setuju sehingga tidak suka bahwa manusia kok mengemis. Kedua, kalau ada orang mengemis kepada saya, selalu saya merasa terganggu, bahkan terteror. Sejak beberapa puluh meter sebelum saya berpapasan dengan orang itu, sudah terbersit di hati bahwa saya akan memberinya uang.
Tapi, ketika mendekat lantas dia menadahkan tangan mengemis kepada saya, terus terang saya langsung drop kehilangan semangat untuk memberi.
Saya ini berniat memberi, jangan dimintai. Kalau memberi karena diminta apa hebatnya, tapi kalau tidak diminta kita tetap memberi: itu baru nikmat.
Tak ada hak saya untuk tidak suka kepada pengemis atau kepada siapa dan apa pun saja, karena mereka semua ciptaan Tuhan --mana berani saya tak menyukai karya Allah. Dalam menjalankan kehidupan ini, untuk perjalanan pribadi, keluarga, grup, kelompok, komunitas, dan apa pun yang terkait dengan pribadi saya, sungguh-sungguh tidak boleh ada pengemisan, proposal, iklan, promosi, menawarkan diri, mengajukan diri, mencalonkan diri, atau apa pun saja yang ada frekuensi kepengemisannya.
Tuhan menghijrahkan saya diangkut oleh kelompok musik Kiai Kanjeng ke lebih dari 30 kota besar dunia tanpa didahului melamar, memamerkan diri, "Ini kami, hebat lho...!", proposal, atau apapun, juga tanpa sponsor. Yang berlangsung hanya empati nilai, perhubungan kemanusiaan, kemesraan persaudaraan, persambungan ilmu, penyatuan cinta. Adapun uang, fasilitas, dan maintenance setiap perjalanan hijrah hanya sertaan otomatik dari gairah kasih sayang kehidupan.
Kita hidup karena disuruh hidup oleh Yang Berhak (Haqq). Saya berjalan karena diperkenankan berjalan oleh yang layak logis legal untuk memperkenankan saya berjalan. Nikah, hamil, beranak-pinak karena penyatuan cinta, bukan melamar dan dilamar. Saya tidak sanggup merencanakan dan melamarkan apa-apa atas kehidupan. Tidak ada karier, tidak ada masa depan, yang ada hanya perkenan: kalau di depan hidung disodorkan sawah, kita mencangkul, mempelajari tanah, sawah, tanaman, cuaca, musim.
Tak ada permusuhan, yang ada hanya kasih sayang yang melahirkan perkenan. Yang berkenan adalah yang memiliki Haqq untuk memperkenankan. Masuk lumpur Sidoarjo tidak karena membela rakyat atau siapa pun, tapi karena didatangi mandat tertulis hitam atas putih legal formal, dan melangkah hanya sebatas koridor pemandatan -- persis sebagaimana hidup ini sendiri. Kalau telah tiba kaki di batas maut, kematian sungguh tak pernah menunggu dilamar, sehingga kehidupan pun berlangsung tidak karena dilamar.

Mungkin karena itu, saya tidak punya keberanian memaknai kata "doa" sebagai permohonan, permintaan, mengemis kepada Allah, meskipun Allah sangat mendengarkan orang yang memohon kepada-Nya. Saya mengambil dimensi lain dari kata "doa". Da'a dan yad'u itu memanggil, du'a atau da'wah itu panggilan. Da'wah bermekanisme horizontal: menganjurkan, menyarankan, mengingatkan. Du'a atau doa itu vertikal.
Tentu saja bukan posisi kita untuk memanggil Allah. Yang agak mendekati tepat adalah menyeru, menyapa.... Berdoa adalah menyapa Allah. Kita sapa Dia karena Dia tahu persis apa yang kita perlukan dari-Nya. "Menyapa" itu statusnya "memberi", maka lebih potensial untuk dibalas pemberian oleh Allah. Sedangkan "memohon" itu, ya, "minta", potensi untuk diberi lebih kecil dibandingkan dengan menyapa. Sebagaimana kalau thawaf saya beraninya menjauh-jauh dari Ka'bah, karena tahu diri ini kotor tak terkira. Kalau lancang mendekat-dekat, saya takut Allah memelototiku sebagai manusia tak tahu diri, GR, merasa bersih, merasa pantas dekat-dekat ke rumah-Nya.
Maka, tak ada nabi yang pernah punya statemen bahwa dirinya baik.
Adam AS menyebut dirinya zalim, juga Yunus. Muhammad SAW menangis dalam sujudnya tiap malam meskipun secara objektif ia hampir tak berdosa, tak memberi hak sedikit pun dalam hidupnya kepada kerakusan, kesombongan, hedonisme, bahkan kepada kekayaan. Allah menyediakan baginya gunung emas dan jabatan Nabi yang Raja, mulkan- Nabiyya, tapi ia memilih menjadi 'abdan-Nabiyya: Nabi yang Jelata.
Muhammad memilih kemiskinan, meskipun menolak kefakiran. Nabi Khidlir hadir kepadamu dengan suatu jenis performance yang kau benci, kau usir, kau tolak tadahan tangannya. Gus Rur Tjurahmalang di masa lalu dalam setahun berbulan-bulan pergi menyusur jalanan berpakaian pengemis. Allah menyatakan kalimat yang tak perlu ditafsirkan: "Yang kau buang-buang itu bisa jadi baik bagimu, yang kau junjung-junjung itu bisa jadi mencelakakanmu."
Tentu saja Muhammad atau Gus Rur berbeda dengan sindikat pengemis dengan jaringan organisasi luas yang mengerahkan pasukan-pasukan taipan ke tepian dan perempatan-perempatan jalan. Berbeda dengan orang-orang dusun yang punya sawah tapi mencari tambahan penghasilan dengan mengemis. Berbeda dengan berbagai macam jenis dan latar belakang sosiologis kaum pengemis yang pada suatu hari melahirkan aturan yang melarang mereka mengemis dan melarang orang memberinya sesuatu.
"Jangan kasih duit itu pengemis. Tidak mendidik!" kata Fulan.
"Saya ndak bisa mendidik, bisanya ngasih," kata Polan, "Daripada ngasih enggak, mendidik juga enggak...."

CAK NUN - Benar Sendiri

Ada tiga model kebenaran yang bisa kita temukan. Pertama, model kebenaran yang dipakai sendiri: benarnya sendiri (benere dhewe). Kedua, kebenaran yang diakui banyak orang (benere wong akeh), dan, ketiga kebenaran hakiki (bener kang sejati).
Sejak mendidik bayi sampai menjalankan penyelenggaraan negara, manusia harus sangat peka dan waspada terhadap sangat berbahayanya jenis kebenaran yang pertama. Artinya, orang yang berlaku berdasarkan benarnya sendiri, pasti mengganggu orang lain, menyiksa lingkungannya, merusak tatanan hidup bersama, dan pada akhirnya pasti akan menghancurkan diri si pelakunya sendiri.
Benarnya sendiri ini berlaku dari soal-soal di rumah tangga, pergaulan di kampung, di pasar, kantor, sampai ke
manifestasi-manifestasinya dalam skala sosial yang lebih luas berupa otoritarianisme, diktatorisme, anarkisme, bahkan pada banyak hal juga berlaku pada monarkisme atau teokrasi. Benarnya sendiri melahirkan firaun-firaun besar dalam skala negara dan dunia, serta memproduk firaun-firaun kecil di rumah tangga, di lingkaran pergaulan, di organisasi, bahkan di warung dan gardu.

Tidak mengagetkan pula jika benarnya sendiri juga terjadi di kalangan yang yakin bahwa mereka sedang menjalankan demokrasi. Ada seribu kejadian sejarah yang mencerminkan pandangan benarnya sendiri. Para pelaku demokrasi banyak menerapkan demokrasi berdasarkan paham benarnya sendiri tentang arti demokrasi itu. Orang yang selama berpuluh-puluh tahun diyakini sebagai seorang demokrat sejati, ditulis di koran-koran, buku-buku, digunjingkan di forum-forum nasional maupun internasional sebagai seorang demokrat teladan --ternyata pandangan-pandangan kolektif itu khilaf."

Copyright @ 2015 CAHAYA ISLAM.

Designed by Cahaya Islam | Fanpage FB