Kalau
Anda melakukan ma-lima dalam waktu lama, kemudian Anda tiba pada
kondisi taubah nashuha, maka tangisnya akan lebih mendalam dibanding
tangis orang-orang yang tak begitu punya dosa.Mengapa kesadaran
keagamaan yang lahir dari wilayah-wilayah macam ini saya katakan di atas
sangat bagus jika diucapkan misalnya sebagai khotbah Jum’at Karena,
keinsafan keilahian itu mereka temukan dari pengalaman-pengalaman
kongkret.Orang-orang semacam ini adalah para pekerja sejarah yang nyata.
Mereka adalah pejalan-pejalan struktural, pelaku-pelaku mekanisme
kenyataan, yang mengerti persis apa isi dunia, sehingga juga lebih
memiliki pemikiran yang strategis dan mendasar jika harus menterjemahkan
konversi keagamaannya itu ke dalam aktualisasi realistik.
Tuesday, 31 March 2015
CAK NUN - Min Haitsu La Yahtasib
Posted By:
Unknown
on 11:35
Sesungguhnya
engkau tak akan pernah sanggup memberi petunjuk kepada siapa yang kau
kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, melainkan Allah yang Maha Sanggup
menghidayahi siapapun saja yang dikehendaki-Nya.Saya mencoba menarik
garis dari snapshot keadaan yang sekilas itu kepada sejumlah titik.
Pertama, kalau kaum muslimin berbicara tentang kebangkitan Islam,
asosiasi utama yang muncul di benak mereka adalah semaraknya
tempat-tempat ibadah, membengkaknya komunitas-komunitas religius,
meningkatnya akses orang Islam terhadap struktur sejarah, dan
sebagainya.Dengan kata lain, kebangkitan Islam dibayangkan terutama
bermula dari kantong-kantong kultur agama. Yang ingin saya catat di situ
adalah kenyataan yang berbeda: justru dari tengah dunia yang penuh
nafsu, kerakusan, dan kebinatangan lahir tetesan-tetesan uluhiyah. Dari
sub-kultur metropolitan, muncul kelahiran baru kesadaran beragama. Dari
lingkungan-lingkungan yang selama ini kita ketahui hanya berisi
keduniaan, ternyata nongol kerinduan keakhiratan yang lebih mendalam dan
lebih dahsyat dibanding yang bisa dirasakan di masjid-masjid.Intensitas
kerinduan keakhiratan dari daerah “rawan akhlaq”, baik kultural maupun
struktural, itu terjadi justru karena cahaya itu memiliki sifat lebih
ekstrem terhadap kegelapan dibanding terhadap ruang yang tak begitu
gelap.
CAK NUN - Gusti Allah tidak "ndeso"
Posted By:
Unknown
on 11:32
Suatu kali Emha Ainun Nadjib cak nun. ditodong pertanyaan beruntun :
"Cak
Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba
sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi
ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar
tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang
sampeyan pilih?"
Cak
Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan
dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah
ndeso gitu," jawab Cak Nun.
"Kalau
saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak
ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke
surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point
pribadi."
Bagi
kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan
tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.
Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan:
Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.
Kalau
korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak
Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih
sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria
kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar
kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di
kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output
sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan
dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya,
orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga
tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.
Tetapi,
bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir
miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah
orang beragama.
Ukuran
keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya,
melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi
kesalehan sosial.
Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.
Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).
Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Ekstrinsik Vs Intrinsik
Dalam
sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar
berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang
hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.
Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."
Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.
Ibadah
ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang
tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.
Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.
Yang
ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia
puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih
keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya.
Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
CAK NUN - "Islamic Valentine Day"
Posted By:
Unknown
on 11:26
JUDUL
ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya
itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik
tentang cinta kemanusiaan.
Islam
bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan.
Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan
atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi
lain, baik yang berasal dari "agama" lain, dari ilmu-ilmu sosial modern
atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam
hanya sama dengan Islam.
Bahkan
Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan
pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan
Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi
atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan
hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.
Semua
pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing
mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang
legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya
kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan
"islamisasi", "dakwah Islam", "syiar Islam", bahkan perintisan
pembentukan "Negara Islam Indonesia" – yang sesungguhnya mereka
perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.
Dan
Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya
Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakikat penciptaan Allah atas
kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu
menerimanya. La ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama, juga
tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan
bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.
Islam
bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik
bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa
diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan
psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan
pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.
Islam
bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran,
kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa
dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang
penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung
dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa
saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir, ingat keserakahan
diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di
tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan
Malaikat Jibril.
Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show,
pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam.
Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan
tayangan "Gosip Islami", "Lokalisasi Pelacuran Islami", "Peragaan Busana
Renang Wanita Muslimah" atau pertandingan volley ball wanita
Muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan
ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari
terakhir Ramadhan sebagai Hari Valentine Islami…
Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina,
kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada
tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah
merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan
besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal…
Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: "…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….".Wahai
manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah
hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian
masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock
juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika
kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum
cukup. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, berbagai harta benda
dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.
Sementara
pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan
memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka
dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: "Sudah berapa lama kalian
bersahabat denganku?" Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun…
"Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini
mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?"
Tentu
saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: "Kalian
memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?"
Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa
dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita
berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita
menjawab agak berbeda: "Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah… tapi
kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram…"
cak nun.
Label:
Artikel (cak nun)
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
CAK NUN - Puasa, Setan, dan Gempa
Posted By:
Unknown
on 11:23
PUASA
itu melatih "tidak" karena kehidupan sehari-hari kita adalah
melampiaskan "ya". Sekurang-kurangnya mengendalikan "ya". Mental manusia
lebih berpihak pada "melampiaskan" dibanding "mengendalikan".
Padahal,
keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen,
kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian
daripada pelampiasan.
Bahkan
idiom "kemerdekaan" kita selama ini sedemikian tidak terkontrol
sehingga identik dengan "pelampiasan". Maka Ramadhan menjadi sangat
penting untuk melatih "tidak" itu.
Bukan
hanya tak makan tak minum tak banyak omong dan lain sebagainya, tapi
juga berbagai macam "tidak" yang lain coba dilatihkan selama bulan
Ramadhan. Termasuk "tidak" ribut, riuh rendah, gebyar-gemebyar,
melonjak-lonjak, berjoget-joget. Puasa mungkin juga merupakan perjalanan
memasuki kesunyian, menghayatinya, merenunginya, kemudian menemukan
nikmatnya.
Dunia
dan Indonesia sudah selalu ribut, dan begitu memasuki Ramadhan: semakin
ribut keadaan. Modal keuangan dan alat perniagaan yang membuat apa saja
menjadi komoditas semakin jadi pengeras suara dari keributan itu.
Penderitaan
diributkan bukan oleh orang-orang yang menderita, tetapi oleh
saudagar-saudagar penderitaan yang menjualnya sana sini dengan keributan
statement, opini, dan asumsi, sambil menempuh strategi jangan sampai
ada solusi. Wakil Presiden ribut terus kapan saja dan tentang apa saja.
Jakarta ribut ingin menyulap dirinya menjadi Singapura yang
metropolitan.
Bagi yang memasuki Ramadhan dengan mencoba menyelinap memasuki bilik "swaraning asepi" atau dunia "kasyful hijab",
mungkin mereka mulai belajar membuka telinga batin sehingga terdengar
suara-suara setan dan Iblis. Kalau suara Allah, para rasul dan nabi,
atau auliya' –anggaplah kita kurang cukup bersih untuk bersentuhan
dengan frekuensi itu. Mendengar suara setan saja alhamdulillah rasanya.
Suara
setan beberapa waktu yang lalu yang saya dengar adalah ketika ada
pentas monolog teater yang berjudul "Mencari Tuhan". Setan itu dengan
beberapa rekannya tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang bahkan
sampai badannya terguling-guling.
Salah
satu setan bilang: "Kasihaaan deh lu Tuhan….. ratusan abad Kau ciptakan
mereka, memasuki abad ke 21 sejak lahirnya Isa Nabi-Mu, dan entah
berapa ratus abad yang lalu kau angkat manusia sebagai khalifah-Mu,
mandataris-Mu di bumi sejak Adam yang ilmu ekogenetika manusia sudah
membuktikannya bahwa ia manusia pertama: tiba-tiba hari ini mereka
memberi pernyataan bahwa mereka sedang mencari-Mu….. Lha selama ini
Tuhan ke mana kok sampai dicari-cari oleh mandatarisnya sendiri? Lha
para mandataris yang hebat-hebat itu selama ini ngeloyor ke mana saja
kok baru sekarang mencari Tuhan? Lho setelah 100 abad menjadi mandataris
kok baru mencari siapa dan di mana Sang Pemberi Mandatnya?….."
Komunitas
setan belang bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh terguncang-guncang
sampai basah seluruh badannya oleh lelehan air mata.
Menjelang
hari pertama Ramadhan ini saya mendengar rombongan setan itu sengaja
lewat-lewat di sekitar saya dan ngomong aneh-aneh seperti itu. "Puasa
kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Puasa cap apa itu?
Wong namanya saja puasa kok ribut. Anggaran belanja makanan minuman
keluarga-keluarga kaum pelaku puasa malah lebih meningkat dibanding
hari-hari tak puasa. Puasa kok meningkat cengengesannya, ribut jualan
kue puasa, jajan puasa, kado puasa, lawakan puasa, ustadz puasa, album
puasa, mebel puasa, soto rawon puasa, kolak getuk puasa…."
Dan
ketika gempa mengguncang Bengkulu, Jambi, Padang, punggung bawah Pulau
Sumatera – kejadian yang dulu diramalkan sudah seharusnya terjadi
sekitar setahun lalu – Setan itu langsung nyerocos lagi: "Gempa datang
untuk mencoba melawan ributnya suara Ramadhan, komoditas Ramadhan,
industri Ramadhan, eksistensi dan vokalisme taushiyah Ramadhan…. Tapi
berani taruhan bahwa gempa yang diizinkan Tuhan untuk terjadi di malam
pertama memasuki Ramadhan itu tak akan mampu mengalahkan riuh rendahnya
budaya industri Ramadhan!"
Setan
lain bereaksi: "Bukankah itu mencerminkan suksesnya misi-visi kita kaum
setan atas kehidupan manusia?" Setan yang pertama menjawab: "Untuk
melakukan keributan-keributan perusak kekhusyukan Ramadhan, bulan
privatnya Allah itu, umat manusia tidak memerlukan pengaruh atau
provokasi kita para setan. Mohon kita akui dengan kebesaran jiwa bahwa
kecerdasan manusia untuk mengotori hidupnya sendiri sudah jauh melebihi
target maksimal nenek moyang kita para setan dahulu kala untuk merusak
hidup manusia."
Setan
yang ketiga menimpali: "Manusia itu tolol. Untuk tidak mencuri dan
mabuk mereka butuh kitab suci Allah, tak bisa mereka temukan sendiri
dengan nurani dan akal sehatnya. Untuk tidak korupsi dan menindas rakyat
mereka butuh konstitusi dan hukum formal. Itu pun belum tentu mereka
patuhi. Jadi untuk menghancurkan peradaban manusia, sama sekali tidak
diperlukan setan dan Iblis. Mereka sudah matang dan dewasa dan canggih
menjalankan sistem dan budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka
sendiri. Meski Tuhan mengizinkan ada tsunami terjadi dan sepadan dengan
tsunami di zaman Nabi Nuh dan Firaun, meskipun gunung-gunung diledakkan,
meskipun gempa disebar, meskipun tanah bumi diretak-retakkan: manusia
sudah telanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan sistem
kebersamaannya untuk belajar dari bencana-bencana itu. Setiap bencana
hanya melahirkan tiga bersaudara: politisasi bencana, komodifikasi
bencana, dan wisata bencana…… Mereka sesungguhnya tidak mengerti
Ramadhan…."
Saya termangu-mangu dan menjadi ragu sendiri: itu semua kata-kata setan atau malaikat atau isyarat dari Tuhan sendiri?
CAK NUN - Nyicil Simpati Pada Setan
Posted By:
Unknown
on 11:19
TULISAN
ini saya bikin dengan mencuri waktu di sela-sela forum,menyelinap
beberapa momentum untuk bisa menulis. Kerja saya seperti setan: berupaya
pandai menggali peluang untuk memasukkan partikel energi dan nilainya
ke pori-pori kejiwaan manusia.
cak nun. Sebab hanya dengan benarbenar mengenali dirinya manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat negara, sistem sosial atau apa pun. Anda semua sedang menjadi korban tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, segala yang indah-indah di layar televisi, di halaman koran, di kantorkantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di panggung, di gardu, dan di mana pun.
Untuk
manusia di zaman ini, hal yang dilakukan setan semacam itu bukan
pekerjaan sulit karena manusia sudah hampir tidak memiliki pertahanan
apa pun terhadap penetrasi setan. Juga karena manusia sudah semakin
tidak mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali setan sehingga tidak
pernah secara sadar atau instingtif mengetahui apakah ia sedang
dipengaruhi oleh setan, apakah sedang berjalan didorong dan dimotivasi
oleh setan, apakah ia sedang menyelenggarakan sesuatu yang pengambil
keputusan sebenarnya adalah setan di dalam dirinya? ***
Tentu
saja setan tidak bisa kita pandang dengan terminologi materi atau
jasadiyah.Ia lebih merupakan energi atau gelombang. Sedemikian rupa
manusia harus mempelajari dirinya sendiri: dari wujud materiilnya,
psiche-nya, roh atau rohaninya. Kita sedang meyakini bahwa kita adalah
manusia, adalah makhluk sosial, adalah warga negara Indonesia, adalah
bagian dari masyarakat dunia, adalah kaum profesional, adalah ulama,
anggota parlemen,pejabat,aktivis LSM,golongan intelektual, atau apa pun.
Tetapi
itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku, dan
elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada
atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial. Kita,pada konteks
tertentu, dan itu sangat serius dan merupakan mainstream: mungkin sekali
adalah boneka-bonekanya setan. Kita hanya robot yang di-remote control
oleh kehendak setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan setan.
Anda mungkin menganggap saya main-main retorika.Tidak. Ini sungguh-
sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari sekolahan dan
universitas, sebab penelitianpenelitian di wilayah itu tidak akan sampai
pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang Tuhan, malaikat,
Iblis, jin, dsb –yang sesungguhnya merupakan wujud nyata seharihari
kehidupan kita.
Kita
sedang menghabiskan waktu untuk bermain-main menunggu kematian
tiba.Mainan kita namanya negara, demokrasi,pemilu,clean governance,
pengajian, taushiyah, mau’idhah hasanah, band dan lagu-lagu, tayangan
dan sinetron…. Semua itu tidak benar-benar kita pahami bahwa bukanlah
kita subjek utamanya. Tentu ini semua harus sangat panjang ditelusuri,
dianalisis, dipaparkan, dan disosialisasi.Tulisan ini sekadar membukakan
pintu agar manusia mulai mempelajari setan sebagai salah satu metode
paling pragmatis dan efektif untuk mengenali dirinya.
cak nun. Sebab hanya dengan benarbenar mengenali dirinya manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat negara, sistem sosial atau apa pun. Anda semua sedang menjadi korban tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, segala yang indah-indah di layar televisi, di halaman koran, di kantorkantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di panggung, di gardu, dan di mana pun.
Tolong
jangan membantah dulu sebelum mempelajari setan, dalam segala wilayah,
konteks, dan skala. Pelajari setan untuk individumu, untuk keluargamu,
untuk keselamatan anak-anakmu tahuntahun yang akan datang, untuk
masyarakat dan bangsamu.Tuhan bilang, ”Mereka melakukan tipu daya, dan
Aku juga…. Aku kasih waktu sejenak kepada mereka….” Jatah untuk
menyembuhkan diri bagi bangsa kita sudah berlalu.
Ramadan
dan Idul Fitri sudah kita lalui tanpa makna apa-apa. Metabolisme zaman
sudah tiba di putaran di mana kita memerlukan jangka waktu yang akan
jauh lebih lama lagi untuk bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita
semua sebagai bangsa. Segala sesuatu sudah kita jalani, kita junjung,
tanpa melahirkan paradigma baru apa pun di bidang apa pun. Indonesia
sudah ”mati”. Tahun 2008–2015 akan semakin terpecah,semakin tertipu
daya,semakin lapar dan panas, semakin stres dan depresi karena kita
sendiri sudah terbiasa menipu daya diri kita sendiri. ***
Semua
sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: ”Tidak ada
tantangan lagi. Manusia bukan tandingan setan sama sekali. Manusia
sangat mudah kami kendalikan.Sangat tidak memiliki kepegasan dan
ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak
menarik lagi bertugas sebagai setan.” Di dalam kitab suci disebutkan:
”Dan ketika dikatakan kepada malaikat: ‘Bersujudlah kepada Adam,’ maka
bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai….” Diam-diam
dibisikkan kepada saya oleh setan:
”Kami
sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja
kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud
kepada Adam.Hari ini saya nyatakan: tidak relevan Iblis bersujud kepada
Adam karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan
kompak menyembah Iblis.”
CAK NUN - Jejak Tinju Pak Kiai
Posted By:
Unknown
on 11:17
ANDAIPUN di seluruh
Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan,
keserakahan, maksiat atau segala macam nilai kacau lainnya, tidak serta-merta
bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.
Baik buruk, jahat
tak jahat, bukan satu-satunya faktor penentu nasib manusia. Dimensi dasar nilai
hidup manusia adalah baik dan buruk, benar dan salah, indah dan tidak indah,
sebenarnya belum cukup. Masih ada dimensi mendasar lainnya, belum lagi
variabel-variabel dan detailnya. Ada ratusan terminologi.
Ada orang
mengucapkan sesuatu dan melakukannya. Ada orang mengucapkan, tapi tak
melakukan. Ada yang melakukan, tapi tak mengucapkan. Ada yang tak mengucapkan
dan tak melakukan, dengan berbagai variabelnya.
Ada orang yang tahu
sedikit tentang sedikit hal. Ada orang tahu banyak tentang sedikit hal. Ada
orang tahu sedikit tentang banyak hal. Ada yang tahu banyak tentang banyak hal
- dengan berbagai variabelnya.
Ada orang mengkritik
dan memberi jalan keluar. Ada orang mengkritik, tapi tak bisa memberi jalan
keluar. Ada orang memberi jalan keluar tanpa mengkritik. Ada orang tidak
mengkritik dan tidak memberi jalan keluar, dengan berbagai variabelnya.
Ada orang berjuang,
berteriak-teriak, dan melaksanakan perjuangannya. Ada orang berjuang, tidak
berteriak tapi mewujudkan perjuangannya. Ada orang berjuang dan tidak sibuk
mengumumkan di koran bahwa ia berjuang, karena teriakan mengganggu strategi perjuangannya.
Ada orang berteriakteriak tapi tidak berjuang. Ada orang yang tidak
berteriak-teriak dan tidak berjuang, dengan segala variabelnya.
Ada orang yang
mengerti dan mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang mengerti tapi tidak
mengerti bahwa dia mengerti. Ada orang yang tidak mengerti tapi mengerti bahwa
dia tidak mengerti. Ada orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa dia
tidak mengerti, dengan segala variabelnya.
Ada orang berdagang
dan memusatkan diri pada pelayanan terhadap pelanggannya. Ada orang berdagang
sibuk pada apa mau dia terhadap pelanggan sehingga lupa apa maunya pelanggan.
Ada pedagang yang tidak peduli-peduli amat pada kemauan pelanggan dan tidak
konsentrasi pada apa mau dia sendiri dalam berdagang, dengan segala variabelnya.
Ada orang perang
dengan berbekal semangat dan keyakinan untuk menang, dengan menghitung cuaca,
medan, dan musuh. Ada orang perang sangat teliti menyelidiki kekuatan cuaca,
medan, dan musuh sehingga tidak sempat menghitung kekuatan dan kelemahan
sendiri. Ada orang perang sibuk membanggakan kehebatannya sehingga merasa tidak
perlu memperhitungkan lawan. Ada orang perang yang atas musuh tak berhitung dan
atas dirinya sendiri juga tak berhitung, dengan segala variabelnya.
Ada orang yang
sangat khusyuk dengan prinsip dan idealismenya dan sangat sungguh-sungguh
memikirkan strategi terapan prinsipnya. Ada orang yang total pegang prinsip
sampai tak punya energi dan waktu untuk memikirkan bagaimana menerapkannya. Ada
orang yang habis usianya untuk tata kelola dan tata terapan sampai tidak ada
prinsip yang tersisa di dalam dirinya. Ada orang yang tak peduli pada prinsip
dan tak sungguh-sungguh melaksanakan apa pun, dengan segala variabelnya.
Ada seorang kiai
nonton tinju bersama santri-santrinya pada suatu Minggu pagi bulan Maret tahun
1974. George Foreman melawan Muhammad Ali di Kinshaha.
Pak kiai bersemangat
dan bersorak-sorai terus-menerus sampai terdengar ke seluruh asrama santri di
pesantrennya. Sebaliknya, para santri hampir tidak ada suaranya dan tampak
bingung air muka mereka. Setiap kali Muhammad Ali ditonjok, Pak Kiai bersorak.
Para santri tidak berani meng-counter meskipun hati mereka ikut sakit
melebihi sakitnya Muhammad Ali ditonjokin Foreman. Ali 32 tahun menantang juara
dunia Foreman 24 tahun.
Mulai ronde 3 Ali
sudah lari ke pojok ring terus dan memang tak diberi peluang oleh Foreman untuk
sedetik saja tak terpojok. Ali minta tolong sama tali ring untuk bergelayutan
dengan punggungnya menghindari pukulan-pukulan Foreman. Para santri rasanya tidak
ridho dunia akhirat melihat dan mendengar Pak Kiai bersorak-sorak terus setiap
kali Ali diberondong pukulan. Sampai akhirnya tiba menit kedua ronde kedelapan,
Ali balas memukul, akumulasi jab, straight, dan hook.
Foreman munting, terputar badannya dan tergeletak TKO.
Badannya belum habis
benar, tapi mental dan hatinya KO lebih dulu karena tak menyangka Ali yang tua
mampu menjatuhkannya. Para santri tak bisa menahan diri lagi. Begitu Foreman ngglimpang,
mereka berteriak-teriak sangat keras. Sebaliknya Pak Kiai langsung pingsan,
karena dua perkara. Pertama karena Foreman tumbang, kedua
karena pekik kegembiraan para santri.
Sejumlah santri
panik dan menjunjung tubuh Pak Kiai, mencoba menyadarkannya. Salah seorang
santri nyeletuk, "Kenapa sih Pak Kiai mbelain
Foreman?" Santri lain menjawab, "Lho, tidak. Pak Kiai sangat fanatik
dan cinta sama Ali. Cuma dia sangka yang Foreman itulah Ali."
Kisah ini
diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang, DPR,
pemerintah, LSM, ulama dan siapa saja: mohon dengan sangat jangan ikuti jejak
Pak Kiai itu.
CAK NUN - KONSUMERISME : Ular-ular Sihir Yang Dilawan Musa
Posted By:
Unknown
on 11:14
Konsumerisme ialah
keadaan di mana mekanisme konsumsi sudah menjadi bagian yang substansial dari
kehidupan manusia. 'Bagian substansial' maksudnya bagian kehidupan yang
seolah-olah dianggap 'wajib' atau tidak lagi ditinggalkan. Jadi, konsumsi sudah
menjadi 'isme', sudah menjadi atau berlaku sebagai semacam 'agama'.
Keberlangsungan
konsumerisme ditentukan ketika nilai dan potensi kreativitas manusia atau
masyarakat dikapitalisir, dijadikan alat pemenuhan kebutuhan yang
dijualbelikan.
Konsumerisme
sesungguhnya sekaligus merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa
dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Oleh karena itu
konsumerisme sebenamya bisa memiliki sisi yang bermacam-macam: ada konsumerisme
dalam bidang pendidikan (sebutlah umpamanya 'konsumerisme etos-etos akademik'),
ada konsumerisme terkandung dalam alam kehidupan beragama (umpamanya ummat
menuntut mubaligh tertentu yang bisa memenuhi selera budaya mereka berdasarkan
situasi sejarah), serta ada berbagai sisi konsumerisme yang lain.
Kita bisa memahami
konsumerisme dari bermacam cara pendekatan. Narnun tidak aneh sama sekali,
bahwa Al-Qur'an sejak semula telah menyediakan semacam cara pandang atau metoda
untuk memahaminya.
Misalnya, dalam
konflik terbuka antara Musa melawan Fir'aun yang didampingi oleh para sihir
bayarannya, diakhiri dengan "duel kekuatan" antara mereka. Lihatlah
Surah Thaahaa ayat 65 hingga 69 saja. Para penyihir sewaan Fir'aun berkata,
"Wahai Musa! engkaulah yang terlebih dahulu melemparkan, ataukah
kami?"
Musa menjawab,
"Silahkan kamu sekalian melemparkan!" Maka tiba-tiba tali-tali dan
tongkat para penyihir itu - terbayang pada mata Musa menjadi ular-ular kecil
yang amat banyak, merayap-rayap ke segala penjuru.
Sehingga Musa merasa
takut di dalam hatinya. Kami (Allah) berkata: "Janganlah kamu takut,
karena sesungguhnya kamulah yang lebih unggul". Lebih benar, mulia.
"Dan lemparlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa
saja yang mereka perbuat.
Sesungguhnya apa
yang mereka perbuat itu adalah merupakan tipu daya sihir belaka. Dan itu tidak
akan menang, dari mana pun, mereka datang".
Allah Maha Mengerti
segala isi waktu. Konteks cerita mengenai Nabi Musa as. Itu tidak terbatas pada
situasisituasi kejahiliyahan jarnan Fir'aun: ia tidak mustahil berlaku bagi
keadaan-keadaan lain di kurun waktu kapan pun, sebelum atau sesudah Fir'aun. Ia
juga bisa berlaku pada diri kita hari ini: karena bukankah bahkan seringkali
kita menjurnpai diri sedang harus belajar "menyebut nama-nama benda"
seperti Adam as, yakni ketika kita harus membenahi kembali
pengertian-pengertian kita tentang nilai, alam, benda, dan segala apapun dalam
kehidupan kita?
Dan siapakah
gerangan Fir'aun? Apakah ia seorang raja yang hidup di abad 20 ini? Apakah ia
suatu konspirasi ekonomi dan bahkan konspirasi politik yang memakai perdagangan
kebudayaannya untuk menyihir golongan-golongan manusia di muka bumi yang memang
hendak mereka jebak dan mereka telan dalam kekuasaannya? Jadi, pertanyaannya
apakah Fir'aun itu semacam Modal besar? Kekuatan atau klik, jaringan ekonomi?
Atau metode iklan-iklannya?
Dan kemudian yang amat
penting ialah siapa gerangan yang sekarang 'wajib' berperan sebagai Musa. Serta
pertanyaan tentang apa yang tergenggam di tangan kanannya.
Bagaimana
menjelaskan secara empirik, pada kasus-kasus modem dewasa ini bahwa "apa
yang mereka perbuat itu tidak lain hanyalah tipu muslihat daya sihir
belaka". Mengapa Allah meyakinkan kepada kita, atau kepada Musa-musa,
bahwa yang tergenggam di tangan kanan kita ini adalah sesuatu yang "lebih
unggul", lebih tinggi, lebih mulia, lebih luhur. Dengan perspektif kefilsafatan
macam apa kita menguraikannya, atau dengan tata aqidah keagamaan yang mana hal
tersebut bisa kita pahami.
Kemudian akhimya
yang paling menjadi adalah konfirmasi dari Allah bahwa "Musa pasti
menang", bahwa "sihir-sihir mereka itu tidak akan menang, dari
manapun datangnya". 'Dari mana pun' itu bisa jugakah berarti pusat-pusat
penjualan film biru, producer-produser kaset yang melemahkan mental masyarakat,
kantor-kantor berita yang memanipulir kenyataan, pusat-pusat modal dan
sebagainya?
Haqul yaqin, daya
giro' ah (membaca realitas) Anda;daya ro'iyah (kepemimpinan) Anda, membimbing
Anda semua untuk mengetahui secara jelas, luas dan mendalam jawaba-jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan di atas. Ada pun yang sernpat tertuliskan di sini,
hanyaiah salah satu kemungkinan syuuraa bainahum di tengah berbagai ilmu yang
diperoleh sendiri oleh sekalian Kaum Muslimin, Insya Allah demikian.
Apa gerangan sihir
itu?
Misalnya, kita mulai
memahaminya dengan kembali melihat-lihat dan meneliti barang-barang yang kita miliki,
barang kita pakai atau yang tersimpan di dalam rumah kita. Dalam penelitian itu
kita ukur, umpamanya, mana benda yang memang wajib kita beli dan wajib kita
memiliki. Mana yang sunnah. Mana yang "sekadar" halal saja. Mana yang
makruh, bahkan akhirnya mana yang haram.
Landasan kriterianva
bisa bermacam-macam. Ambil saa misalnya "Kuluuwasyrobuu, wa laa
tusrifuu" ("Makan dan minumlah, tetapi jangan
berlebih-lebihan"). Sebiji kelebihan, akan memiliki sifat mubadzir, dan
"Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaaanasysyayaathiin ..."
Karena kemubadziran itu sahabat setan, dan kata Allah, setan itu kufur terhadap
Tuhannya.
Kualifikasi
penilaian itu bisa kita perkuat dengan pemahaman terhadap konteks yang lebih
makro dan memperhitungkan sistem hubungan sosial yang luas. Umpamanya, kalau
kita tahu bahwa mayoritas saudara;audara kita masih berada di garis kemiskinan,
maka seberapa layak atau seberapa halal kita membeli sesuatu yang kira-kira
bersifat ironik dan tidak etis dihubungkan dengan kemiskinan saudara-saudara
kita itu.
CAK NUN - Buron dan Kambing Terjepit
Posted By:
Unknown
on 11:11
"CAK,aku bukan
buron.Semua kewajiban saya kepada keuangan negara sudah saya bayar. Bersama ini
saya kirimkan berkas-berkas data yang membuktikan hal itu.
Saya numpang hidup
sementara di luar negeri memang karena saya lari, tetapi bukan lari sebagai
buron, meskipun pengetahuan publik terhadap saya adalah buron." "Saya
lari dari para pemeras, dari mereka yang berlagak menegakkan hukum, tetapi
sesungguhnya mengail di air keruh.
Memeras kami
sekeluarga terusmenerus, dari hari ke hari, siang dan malam. Aku lemah,
sekarang istri saya yang menghadapi pemerasan-pemerasan itu tiap hari."
"Kalau Pak Presiden menjamin bahwa saya, keluarga, dan
perusahaan-perusahaan saya aman dan terlindung dari tindak pemerasan para pagar
pemakan tanaman, sekarang juga saya balik ke kampung halaman.Karena meskipun
potongan dan wajah saya tidak memenuhi syarat citra nasionalisme,tetapi saya
cinta Indonesia.."
"Cak,Pasar Turi
terbakar sebanyak 4 kali: 1. Tahun 1969, 2. Tahun 1978, 3. Tanggal 26 Juli
2007,4.Tanggal 9 September 2007.Yang ke-3 dan ke-4, oleh Kapolda Jatim,
dinyatakan dibakar. Namun, kami para pedagang tidak atau belum mendengar ada
proses hukum yang menuju ke peradilan atas pihak yang membakar.
Cak,bagaimana logika
konstitusionalnya kalau kepala polisi bilang itu dibakar, tapi kemudian tak ada
proses hukum.Apakah polisi bisa disebut telah menyebarkan kebohongan kepada
publik? Ataukah pihak pembakar adalah kakap raksasa ekonomi dan politik
sehingga lembaga keamanan negara tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya?
Bagaimana kami orang kecil memasukkan hal seperti itu ke dalam nalar kepala
kami? Apa lama-lama tidak pecah kepala ini?"
"Pada peristiwa
dibakar terakhir, kerugian yang bisa dicatat : 1. Dari total 2.350 stan yang
terbakar, kerugian barang dagangan diperkirakan sekitar Rp1,7 triliun. 2. Dari
total stan yang tidak terbakar, di lokasi tahap II tidak dapat berjualan
kembali hingga saat ini. 3. Dalam kondisi normal, omzet perputaran transaksi
perdagangan di Pasar Turi mencapai sekitar Rp30 miliar per hari. Sementara
dalam kondisi pemulihan yang sangat lamban seperti saat ini dan telah
berlangsung selama tiga bulan, dapat dibayangkan berapa rupiah yang
hilang." *****
"Cak,kami para
pedagang tidak menuntut yang aneh-aneh. Cak Nun mengatakan di Forum Bangbang
Wetan Surabaya bahwa sahibul bait atau tuan rumahnya sawah adalah petani, tuan
rumahnya laut adalah nelayan, tuan rumahnya pasar adalah para pedagang. Kami
hanya berpendapat bahwa sebagai penghuni dan tuan rumah utama di Pasar Turi,
kami berhak disertakan sebagai salah satu subjek dalam proses pengambilan
keputusan atas pembangunan pasar kembali oleh Pemkot Surabaya."
"Tetapi sampai
hari ini, Wali Kota Surabaya Bambang DH tidak mau sekadar bertemu atau bertatap
muka pun dengan kami para pedagang. Jangankan melibatkan kami dalam
perundingan. Saya mendengar Cak Nun mencoba menempuh berbagai hal ke Depdagri
sampai Mendagri, agar hak-hak pedagang itu memperoleh perhatian, tetapi tidak
ada tanggapan apa pun.
Bahkan, pejabat
Depdagri minta kami para pedagang membuat surat lamaran agar beliaubeliau hadir
ke Pasar Turi.Cak Nun mengatakan kalau ada kambing terjepit di antara dua batu
besar, mestinya pamong desa punya mekanisme untuk tahu ada kambing terjepit,
kemudian bersegera melakukan sesuatu untuk menolong kambing itu. Tetapi di
Indonesia kambing terjepit harus menulis surat lamaran agar pamong desa datang
kepadanya."
"Cak, saya
mendengar katanya Wali Kota Surabaya pernah dipanggil Presiden di Juanda,
dipertemukan dengan wakil pedagang Pasar Turi, tapi sang Walikota tidak hadir.
Apa itu artinya Cak? Presiden tidak punya kuasa atas Walikota? Ataukan ada
aturan Otonomi Daerah yang memberi peluang kepada pejabat daerah untuk
menangani sesuatu secara mutlak dan tak bisa dicampuri,bahkan oleh
Presiden?"
"Cak,
perwakilan pedagang sudah dua kali berusaha untuk bertemu Wali Kota Bambang DH
tetapi tidak pernah diterima. Ada yang menganalisis bahwa SBY tidak mampu
melakukan apa-apa atas Pasar Turi karena kunci-kunci di strata bawahnya di
Depdagri sampai Pemkot Surabaya semua dari parpol saingan parpol Presiden.
Sehingga semacam ada aroma konspirasi politik sangat menyengat sekali untuk
menjatuhkan wibawa dan kekuasaan pemerintahan SBY.Apa itu masuk akal atau tak
masuk akal,Cak?" *****
Yang paling bahaya
dari SMSSMS yang saya terima semacam itu adalah karena membuat saya bergairah
makan. Kenapa bahaya? Kata anak saya, ada seribu alasan kenapa orang minum air
putih dan di antara 1.000 alasan itu di bawah seratus yang relevan terhadap kesehatan.
Kalau kita berkunjung ke kantor bupati dan disuguhi air putih, maka kita minum
air putih.
Air putih itu sehat,
namun pada momentum itu kita teguk air putih tidak dalam skala pertimbangan dan
desain kesehatan. Kalau gara-gara SMS-SMS banjir tiap saat, saya lantas merasa
lapar lagi dan lapar lagi, maka saya ketemu makanan karena kompensasi
psikologis, bukan tirakat kesehatan, dan itu bahaya bagi badan saya jangka
panjang.
Kalau SMSSMS harian
sekadar minta nama bayi lahir tiga sampai empat kali seminggu, suami punya
masalah serius dengan istri atau sebaliknya, keluhan tentang lapangan kerja,
minta modal, problemproblem rumah tangga, stres, gelisah, bingung menentukan
pilihan, atau apa pun masalah manusia sehari-hari, saya masih belum terangsang
untuk makan.
Tetapi kalau masalah
yang di- SMS-kan begitu gede-gede: masalah Lumpur Sidoardjo yang sekamnya makin
membara dan tak sampai setengah tahun lagi akan bisa ada yang terbakar kalau
pemerintah, Lapindo, dan korban lumpur tidak menemukan pemandu yang tepat untuk
mengatasi benturan mereka..
Kalau yang
di-SMS-kan adalah potensi bentrok ribuan tani sawit di Bangka, tanah ratusan
hektare penduduk yang dipakai negara dan sampai 23 tahun belum dibayar, dan
kalau semua itu coba saya tolong dengan menjumpai betapa pejabat dan birokrasi
negara kita hampir sama sekali tidak memiliki logika tanggung jawab, dialektika
moral, kepatuhan konstitusi,maka sungguh-sungguh saya khawatir akan makan
berlebihan dan besok paginya, tatkala bangun, akan muncul pikiran tertentu di
kepala saya.
CAK NUN - Mencekik Orang Sesat
Posted By:
Unknown
on 11:08
DALAM wacana sejarah
umat manusia, yang saya tahu hanya ada satu orang yang melakukan tindakan
kriminal, bahkan pembunuhan, yang tanpa kausalitas sosial dan tidak dalam
situasi peperangan-namun dilegitimasi sebagai kebenaran,bahkan oleh Tuhan.Ialah
Nabi Khidhir, salam Allah untuknya.Pernah bersama Kiai Kanjeng saya ngrasain
duduk di tempat Nabi Musa duduk uzlah bertapa, puncak Gunung Tursina atau Jabal
Musa,8 jam perjalanan dari Gereja Catherine, naik dua kali separuh lingkaran
gunung, baru tancap ke puncak pengembaraan murid Khidhir itu.Tak ada alinea
untuk mengisahkan dahsyatnya gunung itu serta peristiwa amat monumental yang
pernah dikandungnya antara Musa dengan Allah sendiri.Tetapi intinya, di puncak
gunung itu, sesudah Musa dipingsankan oleh Tuhan gara-gara tak sanggup
memandang wajah- Nya, ia diperintah turun gunung kemudian jalan kaki sejauh
sekitar 1.300 km agar berjumpa dengan Kanjeng Khidhir, calon
profesornya.Panjang cerita tentang sok pintarnya Musa ini. Maka ia pun harus
di-plonco oleh Pendekar Segala Pendekar.
Pelaku demokrasi dan pluralisme pun merasa tidak
aman olehnya.Ya, kalau Khidhir cuma kasih taushiah dan melakukan
pembaiatan.Kalau lantas ia mulai merusak-rusak kapal, pesawat, gedung-gedung,
dan melakukan pencekikan dan pembunuhan: Amerika Serikat kampiun demokrasi pun
akan mengerahkan FBI dan CIA-nya. Kalau Khidhir melakukan tiga kriminalitas itu
di wilayah kelautan dan darat NKRI, pasti ditangkap. Dan kalau benar ia
Khidhir, maka sepuluh ribu tentara, polisi, dan intelijen tak akan sanggup
menangkapnya.Apalagi sampai menyentuh kulitnya, mencekik lehernya dan
memasukkannya ke sel tahanan atau penjara.
Dan begitu Musa sowan kepada beliau
yang wajahnya ditabiri kerudung itu, Musa dipersyarati "Silakan ikut aku,
tapi jangan bertanya apa-apa!" Semua orang Islam tahu kejadian- kejadian
antara mereka berdua.Khidhir membocorkan kapal yang mereka naiki, kemudian
mencekik anak kecil, terakhir menegakkan pagar rumah seseorang.Ketiga-tiganya
Musa tidak lulus. Musa bertanya terus: kenapa kapal dibocorkan, kok anak itu
beliau bunuh, wong nggak disuruh dan nggak dibayar kok mau-maunya memperbaiki
pagar itu. Tentulah bukan karena Musa murid yang jelek. Beliau bertanya karena
begitulah naluri beliau sebagai pejuang kebenaran, sebagai aktivis heroik,
sebagai penegak HAM, dan pasti juga karena memang demikianlah kewajiban seorang
Rasul.Seandainya tiga tindak kriminal Khidhir itu terjadi di wilayah NKRI,pasti
beliau sudah ditangkap oleh petugas kepolisian.
Minimal menjadi buron, terutama
karena membunuh anak kecil. Menariknya, karena atas kasus Khidhir, "Komisi
Orang Hilang" beserta seluruh LSM, insya Allah kompak dengan pihak
pemerintah.Saya tidak memperoleh data apakah anak kecil itu bernama Munir atau
bukan. Kalau benar Munir, pasti complicated karena Khidhir jelas bukan bagian
dari kekuasaan, wilayah polisi modal, atau jaringan intelijen Kerajaan Fir'aun.
Tapi pasti pembunuhan Khidhir atas anak kecil itu sangat ramai menghiasi media
massa. Pasal utamanya karena pihak yang terbunuh itu bukan bagian dari golongan
Islam.Kalau ada seribu orang Islam dibunuh,itu bukan berita, dibanding satu
orang bukan Islam dibunuh. Lebih berita lagi kalau orang Islam yang membunuh.
Seperti ada perjanjian dan logika tak tertulis bahwa kalau pihak Islam
membunuh, itu pelanggaran HAM.Sebaliknya kalau pihak Islam dibunuh, bukan
pelanggaran HAM.Masalahnya, di zaman Khidhir ini kata Islam belum populer,belum
menjadi ikon negatif seperti sekarang, serta belum menjadi kambing hitam dari berbagai
kesalahan berat pelanggaran HAM, pembangunan senjata pemusnah massal, lambang
ketertinggalan, kebodohan, kemiskinan,dan kekumuhan.Secara yuridis, mudah
menjaring Baginda Khidhir karena bukan bagian dari struktur kekuasaan Fir'aun.
Secara politik juga gampang mebulan-bulani Khidhir karena ia bukan bagian dari
kemuliaan Amerika Serikat yang berjuang keras menyelamatkan umat manusia di
seluruh permukaan bumi.Secara militer dan intelijen juga tidak ada kesulitan
memperdayai Khidhir karena ia single fighter, tidak punya umat 30 juta, tidak
didukung oleh Pasukan Berani Mati,juga karena wilayah subversinya sangat jelas
dan mudah ditengarai, yakni sekitar pantaipantai dan seputar Laut Tengah,
terutama Majma'al Bahrain: pertemuan dua arus laut.Sesungguhnya banyak sekali
kandungan filosofi, sumber hikmah dan cakrawala wacana yang bisa diungkap dari
adegan-adegan singkat Khidhir ini.Tetapi dalam tulisan ini hanya saya fokuskan
pada posisi politis, sosial, dan kosmologis Khidhir-yang sedemikian rupa
sehingga beliau tidak bisa disentuh oleh militer, kepolisian, hukum, pengadilan
HAM,kekuasaan negara-negara atau kerajaan apa pun.
Bahkan tidak bisa dijaring
atau dipersalahkan oleh ilmu dan wacana peradaban apa pun dalam kehidupan umat
manusia. Khidhir menjelaskan kepada Musa bahwa dengan rusaknya kapal itu,
penumpangnya terlindung dari rencana perampokan para bajak laut yang sebenarnya
sebentar lagi akan terjadi.Anak kecil itu ia bunuh karena kelak ketika ia besar
akan menjadi kafir kriminal, sehingga bapak dan ibunya akan kalah dan ikut
menjadi kafir kriminal.Dengan dibunuh,anak itu akan masuk surga, dan
bapak-ibunya juga batal menjadi kafir kriminal. Pagar ia tegakkan untuk
menghindarkan kecurigaan para kapitalis yang beriktikad merebutnya karena di
bawah pagar itu terdapat simpanan harta luar biasa besar melimpah dari masa
silam.
Pengetahuan futurologi Khidhir, tindakan radikalnya, segala jenis
kriminalitasnya, serta kesaktian pribadinya yang tak terlawan bahkan oleh Nabi
Besar Musa AS adalah bukan wacana sosial horizontal, melainkan sirrullah wa
biidznillah, berada dalam lingkup rahasia dan perkenan Allah. Negara, hukum,
moral, peradaban dan segala sistem sosial manusia tidak memiliki daya sentuh
atasnya.Akses manusia biasa seperti kita, termasuk seluruh pelaku sejarah peradaban
umat manusia, hanya satu: believe it or not, take it or leave it. Maka nabi
dengan nubuwwah, rasul dengan risalah, bahkan mungkin waliyullah dengan
walayah: tidak punya tempat untuk hidup di alam sistem peradaban modern,tidak
punya alamat di skala berpikir modernisme, tidak terdapat di sebelah manapun
dari peta ilmu dan wacana modernitas.Dunia modern dan sistem nilai
negara-negara modern sangat sempit, tak akan sanggup memuat keleluasaan
cakrawala hakikat hidup yang sesungguhnya. Bagi mata pandang negara dan manusia
modern, Khidhir itu sesat.
CAK NUN - Aturan Perampok untuk Pengemis
Posted By:
Unknown
on 11:06
Sejak zaman muda
masih kos dulu, saya memang tidak suka ngasih apa - apa kepada pengemis. Alasan
saya dua: Pertama, saya tidak setuju sehingga tidak suka bahwa manusia kok
mengemis. Kedua, kalau ada orang mengemis kepada saya, selalu saya merasa
terganggu, bahkan terteror. Sejak beberapa puluh meter sebelum saya berpapasan
dengan orang itu, sudah terbersit di hati bahwa saya akan memberinya uang.
Tapi, ketika
mendekat lantas dia menadahkan tangan mengemis kepada saya, terus terang saya
langsung drop kehilangan semangat untuk memberi.
Saya ini berniat
memberi, jangan dimintai. Kalau memberi karena diminta apa hebatnya, tapi kalau
tidak diminta kita tetap memberi: itu baru nikmat.
Tak ada hak saya
untuk tidak suka kepada pengemis atau kepada siapa dan apa pun saja, karena
mereka semua ciptaan Tuhan --mana berani saya tak menyukai karya Allah. Dalam
menjalankan kehidupan ini, untuk perjalanan pribadi, keluarga, grup, kelompok,
komunitas, dan apa pun yang terkait dengan pribadi saya, sungguh-sungguh tidak
boleh ada pengemisan, proposal, iklan, promosi, menawarkan diri, mengajukan
diri, mencalonkan diri, atau apa pun saja yang ada frekuensi kepengemisannya.
Tuhan menghijrahkan
saya diangkut oleh kelompok musik Kiai Kanjeng ke lebih dari 30 kota besar
dunia tanpa didahului melamar, memamerkan diri, "Ini kami, hebat
lho...!", proposal, atau apapun, juga tanpa sponsor. Yang berlangsung
hanya empati nilai, perhubungan kemanusiaan, kemesraan persaudaraan,
persambungan ilmu, penyatuan cinta. Adapun uang, fasilitas, dan maintenance
setiap perjalanan hijrah hanya sertaan otomatik dari gairah kasih sayang
kehidupan.
Kita hidup karena
disuruh hidup oleh Yang Berhak (Haqq). Saya berjalan karena diperkenankan
berjalan oleh yang layak logis legal untuk memperkenankan saya berjalan. Nikah,
hamil, beranak-pinak karena penyatuan cinta, bukan melamar dan dilamar. Saya
tidak sanggup merencanakan dan melamarkan apa-apa atas kehidupan. Tidak ada
karier, tidak ada masa depan, yang ada hanya perkenan: kalau di depan hidung
disodorkan sawah, kita mencangkul, mempelajari tanah, sawah, tanaman, cuaca,
musim.
Tak ada permusuhan,
yang ada hanya kasih sayang yang melahirkan perkenan. Yang berkenan adalah yang
memiliki Haqq untuk memperkenankan. Masuk lumpur Sidoarjo tidak karena membela
rakyat atau siapa pun, tapi karena didatangi mandat tertulis hitam atas putih
legal formal, dan melangkah hanya sebatas koridor pemandatan -- persis
sebagaimana hidup ini sendiri. Kalau telah tiba kaki di batas maut, kematian
sungguh tak pernah menunggu dilamar, sehingga kehidupan pun berlangsung tidak
karena dilamar.
Mungkin karena itu,
saya tidak punya keberanian memaknai kata "doa" sebagai permohonan,
permintaan, mengemis kepada Allah, meskipun Allah sangat mendengarkan orang
yang memohon kepada-Nya. Saya mengambil dimensi lain dari kata "doa".
Da'a dan yad'u itu memanggil, du'a atau da'wah itu panggilan. Da'wah
bermekanisme horizontal: menganjurkan, menyarankan, mengingatkan. Du'a atau doa
itu vertikal.
Tentu saja bukan
posisi kita untuk memanggil Allah. Yang agak mendekati tepat adalah menyeru,
menyapa.... Berdoa adalah menyapa Allah. Kita sapa Dia karena Dia tahu persis
apa yang kita perlukan dari-Nya. "Menyapa" itu statusnya
"memberi", maka lebih potensial untuk dibalas pemberian oleh Allah.
Sedangkan "memohon" itu, ya, "minta", potensi untuk diberi
lebih kecil dibandingkan dengan menyapa. Sebagaimana kalau thawaf saya
beraninya menjauh-jauh dari Ka'bah, karena tahu diri ini kotor tak terkira.
Kalau lancang mendekat-dekat, saya takut Allah memelototiku sebagai manusia tak
tahu diri, GR, merasa bersih, merasa pantas dekat-dekat ke rumah-Nya.
Maka, tak ada nabi
yang pernah punya statemen bahwa dirinya baik.
Adam AS menyebut
dirinya zalim, juga Yunus. Muhammad SAW menangis dalam sujudnya tiap malam
meskipun secara objektif ia hampir tak berdosa, tak memberi hak sedikit pun
dalam hidupnya kepada kerakusan, kesombongan, hedonisme, bahkan kepada
kekayaan. Allah menyediakan baginya gunung emas dan jabatan Nabi yang Raja,
mulkan- Nabiyya, tapi ia memilih menjadi 'abdan-Nabiyya: Nabi yang Jelata.
Muhammad memilih
kemiskinan, meskipun menolak kefakiran. Nabi Khidlir hadir kepadamu dengan
suatu jenis performance yang kau benci, kau usir, kau tolak tadahan tangannya.
Gus Rur Tjurahmalang di masa lalu dalam setahun berbulan-bulan pergi menyusur
jalanan berpakaian pengemis. Allah menyatakan kalimat yang tak perlu
ditafsirkan: "Yang kau buang-buang itu bisa jadi baik bagimu, yang kau
junjung-junjung itu bisa jadi mencelakakanmu."
Tentu saja Muhammad
atau Gus Rur berbeda dengan sindikat pengemis dengan jaringan organisasi luas
yang mengerahkan pasukan-pasukan taipan ke tepian dan perempatan-perempatan
jalan. Berbeda dengan orang-orang dusun yang punya sawah tapi mencari tambahan
penghasilan dengan mengemis. Berbeda dengan berbagai macam jenis dan latar
belakang sosiologis kaum pengemis yang pada suatu hari melahirkan aturan yang
melarang mereka mengemis dan melarang orang memberinya sesuatu.
"Jangan kasih
duit itu pengemis. Tidak mendidik!" kata Fulan.
"Saya ndak bisa
mendidik, bisanya ngasih," kata Polan, "Daripada ngasih enggak,
mendidik juga enggak...."
CAK NUN - Benar Sendiri
Posted By:
Unknown
on 11:03
Ada tiga model
kebenaran yang bisa kita temukan. Pertama, model kebenaran yang dipakai
sendiri: benarnya sendiri (benere dhewe). Kedua, kebenaran yang diakui banyak
orang (benere wong akeh), dan, ketiga kebenaran hakiki (bener kang sejati).
Sejak mendidik bayi
sampai menjalankan penyelenggaraan negara, manusia harus sangat peka dan
waspada terhadap sangat berbahayanya jenis kebenaran yang pertama. Artinya,
orang yang berlaku berdasarkan benarnya sendiri, pasti mengganggu orang lain,
menyiksa lingkungannya, merusak tatanan hidup bersama, dan pada akhirnya pasti
akan menghancurkan diri si pelakunya sendiri.
Benarnya sendiri ini
berlaku dari soal-soal di rumah tangga, pergaulan di kampung, di pasar, kantor,
sampai ke
manifestasi-manifestasinya
dalam skala sosial yang lebih luas berupa otoritarianisme, diktatorisme,
anarkisme, bahkan pada banyak hal juga berlaku pada monarkisme atau teokrasi.
Benarnya sendiri melahirkan firaun-firaun besar dalam skala negara dan dunia,
serta memproduk firaun-firaun kecil di rumah tangga, di lingkaran pergaulan, di
organisasi, bahkan di warung dan gardu.
Tidak mengagetkan pula jika benarnya sendiri juga terjadi di kalangan yang yakin bahwa mereka sedang menjalankan demokrasi. Ada seribu kejadian sejarah yang mencerminkan pandangan benarnya sendiri. Para pelaku demokrasi banyak menerapkan demokrasi berdasarkan paham benarnya sendiri tentang arti demokrasi itu. Orang yang selama berpuluh-puluh tahun diyakini sebagai seorang demokrat sejati, ditulis di koran-koran, buku-buku, digunjingkan di forum-forum nasional maupun internasional sebagai seorang demokrat teladan --ternyata pandangan-pandangan kolektif itu khilaf."
CAK NUN - Generasi Kempong
Posted By:
Unknown
on 10:18
Salah satu jenis kelemahan manusia adalah
kecenderungan terlalu gampang percaya atau terlalu mudah tidak percaya. Masih
mending kalau mau mengkritik: "Cak Nun tulisannya susah dipahami, harus
dibaca dua tiga kali baru bisa sedikit paham."
Sebenarnya diam-diam di dalam hatimu engkau
sudah mulai merasakan dan mengakui hal itu, tetapi keangkuhan kolektifmu masih
menjadi dinding bagi terbukanya kejujuranmu. Engkau tinggal memilih akan
menjadi bagian dari generasi yang semakin kempong giginya, ataukah diam-diam
engkau menumbuhkan lingkaran-lingkaran Indonesia baru yang menumbuhkan
gigi-gigi masa depannya.
Saya menjawab protes itu: "Anda kempong
ya?"
"Kok kempong..maksudnya?"
"Kalau kempong ndak punya gigi, harus
makan makanan yang tidak perlu dikunyah. Orang kempong ndak bisa makan kacang,
bahkan krupukpun hanya di-emut. Kalau orang punya gigi, dia bisa menjalankan
saran dokter: kalau makan kunyahlah 33 kali baru ditelan. Sekedar makanan,
harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan
jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana - maunya langsung ditelan
sekali jadi"
Teman saya itu nyengenges.
"Coba Anda pandang Indonesia yang ruwet
ini. Wong kalau Anda mengunyahnya sampai seribu kalipun belum tentu Anda bisa
paham. Segala ilmu sosial, ilmu politik, ilmu ekonomi dan kebudayaan mandeg
dihadang keruwetan Indonesia. Ilmuwan-ilmuwan kelas satu saja kebingungan
membaca Indonesia, lha kok Anda ingin mengenyam makanan tanpa mengunyah.
Yokopo se mbaaaah mbah! Sampeyan iku jik
cilik kok wis tuwek..."
Kebudayaan kita instan. Mie-nya instan.
Lagunya instan. Maunya masuk sorga juga instan. Kalau bisa, dapat uang banyak
langsung, ndak usah kerja ndak apa-apa. Kalau perlu ndak usah ada Indonesia
ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal saya punya
duit banyak.
Sedangkan Kitab Suci perlu kita baca terus
menerus sepanjang hidup, itupun belum tentu memperoleh ilmu dan hikmah. Wong
kita tiap hari shalat lima waktu rajin khusyuk sampai bathuk benthet saja belum
tentu menemukan kebenaran. Wong naik haji sampai sepuluh kali saja belum
dijamin akan memperoleh ridhollah. Lha kok sekali baca ingin mendapat kedalaman
nilai, lha kok lagu-lagu pop diharapkan menawarkan kualitas hidup, lha kok
menyanyikah shalawat dianggap sama dengan bershalawat atau melakukan shalawat.
Kalau Anda karyawan produksi televisi, Anda
harus memperhitungkan harus bikin tayangan gambar yang sedetik dua dua detik
nongol maka orang langsung senang. Penonton jangan dituntut untuk sedikit
sajapun mendalami apa yang mereka tonton. Pokoknya kalau di depan TV sekilas
pandang orang tak senang, ia akan langsung pindah channel.
Jadi bikinlah tayangan yang diperhitungkan
sebagai konsumsi orang-orang kempong yang tidak memiliki kemampuan dan tak
punya waktu untuk mengunyah, menghayati dan mendalami. Maka acara yang terbaik
adalah joget, joget, joget.itu dijamin pasti langsung laku. Anda tak perlu
berpikir tentang mutu kebudayaan, pendidikan manusia, sosialisasi nilai-nilai
sosial atau apapun saja.
Baca koran juga dengan metodologi kempong.
Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda
antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi, sarkasme,
sanepan, istidraj. Meskipun saya maling, asal saya omong seperti Ulama, maka
saya dianggap Ulama.
cak nun.
Sebaliknya meskipun saya tidak nyolong, kalau
saya bilang "saya ini orangnya Suharto, saya dikasih perusahan PT
Dengkulmu Mlicet..", orang instantly percaya bahwa saya memang orangnya
Suharto. Meskipun saya seekor anjing, tapi kalu saya katakana bahwa saya
kambing, orang langsung yakin bahwa saya bukan anjing. Generasi kempong sangat
rentan terhadap apa saja, termasuk informasi.
Tidak ada etos kerja. Tidak ada ideologi
dharma, atau “falya'mal 'amalan shalihan”.
Yang kita punyai hanya obsesi hasil, khayal pemilikan dan kenikmatan. Apapun
caranya. Boleh rejeki langsung dari langit, boleh hasil copetan atau korupsi.
Gus Dur kena gate, Akbar kena gate, ada AsaramaGate ada AsmaraGate dan beribu-ribu gate yang
lain dari - asalkan yang nyolong semuanya kan kita relatif aman. Pak Amin Rais
bilang kalau kita paksakan Pansus Buloggate-II dibentuk berarti akan terjadi
pembubaran parlemen.
Bahasa jelasnya, maling yang ditangkap yang
tertentu saja. Kalau benar-benar memberantas maling, nanti DPR/MPR bubar,
pemerintah bubar, seluruh Indonesia jadi Lowok Waru, Cipinang, buen-buen. Maka
betapa indahnya kalau Pak Amin Rais menjadi pahlawan pembubaran Parlemen Maling,
sebagai salah satu jalan mendasar dan total perbaikan dan penyembuhan
Indonesia?
Sebab, lambat atau cepat, hal itu akan
terjadi, meskipun tidak harus dalam bentuk wantah. Kalau rakyat tidak sanggup
menagih, maka akan ada yang lebih kuat dari rakyat yang akan menagih. Pak Harto
dikempongi, Habibie dikempongi, Gus Dur dikempongi, dan sekarang sedang mulai
gencar Megawati dikempongi...
“Asa an
tukrihu syai-an wa huwa khoirul-lakum, wa 'asa an tuhibbu syai-an wa huwa
syarrun lakum”. Apa yang selama ini engkau singkirkan, engkau
anggap buruk, engkau coreng mukanya, engkau remehkan, engkau rendah-rendahkan
atau engkau buang ke tong-tong sampah - akan menohok kesadaranmu dan engkau
akan dipaksa menyadari bahwa sesungguhnya yang engkau anggap buruk itulah yang
baik bagi kehidupan berbangsamu. Sebaliknya segala sesuatu yang engkau
junjung-junjung, engkau blow-up, engkau puja-puji, engkau bela mati-matian,
engka sangka akses utama masa depanmu - akan nglinthek di depan matamu dan
engkau dipaksa menyadari bahwa ternyata ia sesungguhnya buruk bagi hidupmu.
Apa yang sesungguhnya egkau harapkan dari
keadaan-keadaan yang semakin lama semakin menyiksamu ini? Siapa sebenarnya
Imam-mu yang sungguh-sungguh bisa engkau percaya? Siapa presiden-sejatimu?
Siapa pemimpin yang nasibmu bisa saling rebah bersamanya? Siapa yang menjamin
sembako di pawon-mu dan uang sekolah anak-anakmu? Siapa yang menjaga keamanan
keluargamu dan nyawa anak-anak serta istrimu, padahal engkau sudah membayar
pajak?
Sampai kapan engkau menyanyikan lagu-lagu
khayal siang malam di koran dan teve? Sampai kapan engkau berenang-renang di
lautan takhayul? Apakah harus kita ubah Ajisoko kita menjadi Ho-no-co-ro-ko,
Do-to-so-wo-lo, Po-dho-pe-kok-o, Mong-go-mo-dar-o..?
Subscribe to:
Posts (Atom)












Tidak ada komentar:
Poskan Komentar